mobilinanews (Jakarta) – Bagi Anda yang baru beralih ke kendaraan listrik (EV), ada satu detail kecil yang mungkin mengernyitkan dahi: tekanan udara ban.
Jika mobil konvensional biasanya bermain di angka 30-35 psi, mobil listrik justru menuntut angka yang jauh lebih tinggi, bahkan bisa menyentuh 45 hingga 47 psi.
Lalu, mengapa perbedaannya begitu signifikan? Ternyata, ini bukan sekadar angka, melainkan kebutuhan teknis demi keamanan dan efisiensi.
1. Menopang "Diet" yang Berat
Alasan utama di balik tingginya tekanan ban adalah bobot kendaraan. Mobil listrik membawa paket baterai yang sangat berat. Sebagai ilustrasi, SUV listrik seperti BYD Sealion 7 memiliki bobot sekitar 2,3 ton.
Jika dibandingkan dengan SUV mesin bensin atau diesel sekelas Toyota Fortuner yang beratnya berkisar 1,9 hingga 2 ton, terdapat selisih beban sekitar 300 kg.
Tekanan udara yang tinggi berfungsi sebagai "penyangga" agar ban tidak kempis atau berubah bentuk secara ekstrem saat menopang beban berat tersebut.
2. Struktur Ban yang Diperkuat (High Load)
Fisa Rizqiano dari Bridgestone Indonesia menjelaskan bahwa ban EV memiliki spesifikasi load index (indeks beban) yang lebih tinggi
"Umumnya ban mobil listrik punya struktur yang diperkuat. Dinding bannya dirancang khusus untuk menahan tekanan internal yang tinggi sekaligus menopang beban baterai," ujarnya.
Itulah alasan mengapa ban khusus EV dibanderol dengan harga lebih mahal. Material dan konstruksinya memang dipersiapkan untuk kerja ekstra keras.
3. Menjaga Jarak Tempuh (Efisiensi)
Selain masalah beban, tekanan udara tinggi bertujuan untuk meminimalkan rolling resistance atau hambatan gulir.
Bagi pengguna EV, efisiensi adalah segalanya demi mendapatkan jarak tempuh (range) maksimal dalam sekali pengisian daya.