Mobilinanews (Jakarta) - Presiden FIA Mohammed Ben Sulayem baru saja mengejutkan publik lewat pengumuman besar. Formula 1 dipastikan akan kembali menggunakan mesin V8 mulai musim 2030, sebuah langkah drastis yang memicu antusiasme penggemar balap.
Kabar mengejutkan ini disampaikan langsung di ibu kota Rwanda, bersamaan dengan peluncuran Grand Prix Afrika. Kesepakatan berdurasi 10 tahun ini menandai kembalinya ajang Formula 1 (F1) ke benua Afrika sejak balapan terakhir 1993.
Duduk bersama CEO F1 Stefano Domenicali dan Presiden Rwanda Paul Kagame, Sulayem mengonfirmasi bahwa raungan V8 akan terdengar di sana. Namun belum dipastikan apakah Sirkuit Bugesera siap menggelar balapan tepat pada 2030.
Meski pengumuman mesin V8 dan lokasi balapan baru sudah dibuat, buku regulasi resminya belum terbit. Pemungutan suara antartim belum digelar, serta rincian spesifikasi teknis bagi tiap produsen juga belum ditetapkan resmi.

Gagasan yang berkembang saat ini mengarah pada penggunaan mesin berkapasitas 3,0 liter. Dapur pacu anyar ini kabarnya akan dipadukan dengan perangkat turbocharger serta sistem bantuan daya elektrik berukuran lebih ringkas.
Penerapan turbocharger dinilai sangat krusial untuk meredam tingkat kebisingan mesin. Tanpa turbo, raungan alami V8 3,0 liter berpotensi melanggar batasan regulasi suara, terutama saat melintasi sirkuit jalan raya perkotaan.
Langkah ini juga membawa perubahan besar pada porsi elektrifikasi yang selama ini kurang populer. Penggunaan motor listrik berdaya besar akan dipangkas menjadi pendorong cadangan sebesar 100 kW untuk menyokong performa.
Peralihan ke mesin V8 pada 2029 atau 2030 membutuhkan persetujuan seluruh tim peserta. Mengingat regulasi V6 Turbo Hybrid saat ini sejatinya dirancang untuk berlaku hingga akhir 2030, perubahan awal memerlukan kesepakatan.
Ben Sulayem menegaskan bahwa perubahan regulasi ini memberikan dampak positif secara teknis. Bobot total mobil balap generasi baru diperkirakan bakal memangkas beban hingga sekitar 80 kg sehingga lebih lincah.
Selain pemangkasan bobot, regulasi baru ini membidik efisiensi biaya yang signifikan. Biaya riset dan pengembangan sektor dapur pacu diharapkan dapat ditekan hingga 50% dibanding anggaran raksasa era V6 saat ini.

Suara legendaris yang dirindukan para penggemar menjadi alasan utama kembalinya konfigurasi V8. Demi menjaga kepedulian lingkungan, mesin bertenaga gahar ini nantinya akan dipadukan dengan penggunaan bahan bakar ramah lingkungan.
Standarisasi komponen akan memegang peranan penting untuk menjaga persaingan tetap adil. Selain itu, fitur pendukung seperti mode push-to-pass juga sedang dipertimbangkan demi menyajikan aksi salip-menyalip yang seru.
Kendati disambut meriah, rencana ini berpotensi memicu penolakan dari produsen anyar. Pabrikan besar seperti Audi dan Cadillac mungkin merasa dirugikan karena regulasi V6 diganti tak lama setelah investasi besar mereka.
Langkah berani F1 mengembalikan mesin V8 menjadi babak baru yang sangat dinantikan, menjanjikan era balapan yang jauh lebih ringan, bising, dan penuh aksi memukau bagi jutaan pasang mata penggemar di seluruh dunia.