F1 2025 Jepang: Gara-Gara Lupa Menutup DRS, Masa Depan Jack Doohan Masuk Zona Bahaya

Sabtu, 05/04/2025 08:42 WIB | Rulin purba
Serpihan mobil Jack Doohan (Alpine) yang membuat red flag berkibar di FP2 GP Jepang kemarin. (Foto: f1-alpine)
Serpihan mobil Jack Doohan (Alpine) yang membuat red flag berkibar di FP2 GP Jepang kemarin. (Foto: f1-alpine)

mobilinanews (Jepang) - Kini terungkap sebab kecelakaan fatal yang menimpa Jack Doohan (Alpine) di FP2 GP Jepang kemarin. Rupanya putra legenda balap motor Mick Doohan itu lupa apa yang harus dilakukan usai menerobos trek lurus Suzuka.

Pembalap Australia itu yang baru tahun ini balap regular di F1, mengalami spin di Tikungan 1. Membentur pembatas lintasan. Mobilnya rusak parah, hancur berkeping-keping dan kepingannya berserakan di lintasan. Itu mendatangkan red flags pertama dari 4 kali penghentian sesi latihan saat itu.

Ia memang bisa keluar sendiri dari mobilnya dan langsung menuju klinik sirkuit untuk pemeriksaan dan untungnya tak ada cidera berarti.

Belakangan tim Alpine mengeluarkan pernyataan resmi soal sebab kecelakaan. Tak lain karena Doohan lupa menutup sistem DRS (Drag Reduction System). Ini adalah terobosan teknologi F1 untuk mengembangkan kecepatan di trek lurus, terutama juga saat ingin menyalip lawannya karena mendapat tambahan kecepatan karena system itu.

Normalnya, sistem DRS ini otomatis membuka sayap belakang lewat sensor yang dipasang usai Tikungan Terakhir atau jelang masuk trek lurus. Dan, akan tertutup sendiri begitu pembalap menginjak pedal rem jelang Tikungan 1.

Tapi, di Suzuka, berbeda. Pembalap harus menutup sendiri sistem DRS-nya jelang masuk T1.

Jack lupa soal itu, membuatnya kaget dan mobilnya mlintir dan dengan keras menghantam pembatas.

"Kami senang melihatnya selamat. Jack salah dengan tidak menutup sistem DRS menjelang T1. Itu pelajaran untuknya," komentar Team Principal Alpine Oli Oakes.

Doohan sendiri mengakui kaget dengan kejadian itu dan bersyukur keluar mobil dengan sehat walafiat.

"Saya akan belajar dari kasus ini. Fokus saya sekarang adalah persiapan ke sesi berikutnya (FP3 dan kualifikasi pada Sabtu (5/4) ini," katanya dengan harapan mobilnya bisa diperbaiki tepat waktu.

Kasus ini pun langsung mendatangkan bola panas. Performa Doohan kembali jadi sorotan setelah performa awal di dua grand prix Australia dan China juga di bawah standar tim.

Ia pun langsung dibandingkan dengan pembalap muda Jepang, Ryo Hirakawa.  Sebelumnya di FP1, mobil itu digunakan oleh Hirakawa dan Doohan berada di garasi tim. Hasilnya, Hirakawa sukses mencapai finish di posisi tercepat ke-12 dari 20 pembalap.

Mungkin saja sukses Hirakawa menjadi beban pikiran Doohan. Maklum jam terbangnya di F1 masih minim, dan masa depannya di F1 juga jauh dari kata aman.

Seperti diungkapkan sejumlah media dan pundi F1 sejak awal musim, Doohan tak punya kontrak dengan timnya. Kemitraan mereka hanya dinilai dari satu balapan ke balapan lainnya. Karena itu Alpine bisa memecatnya kapan saja jika performanya di bawah target tim.

Kecelakaan di sesi latihan itu tentu juga jadi catatan tersendiri. Biaya perbaikan mobil sangat mahal dan itu sangat mempengaruhi keuangan tim di tengah budget cap yang semakin ketat. Sebagai info tambahan, Mick Schumacher terbuang dari tim Haas tak lain karena terlalu sering kecelakaan dan menghabiskan banyak dana perbaikan.

Suka atau tidak, kini Doohan Masuk zona bahaya. Masa depannya di F1 benar-benar terancam. Ada 4 pembalap muda milik Alpine yang sudah punya lisensi F1, termasuk Hirakawa,  yang siap setiap saat jadi.pengganti.

Usai GP China lalu Liam Lawson out dari tim Red Bull Racing karena masalah performa dalam dua kali race. Ia diturunkan ke tim Racing Bulls. Mulai seri Jepang ini Yuki Tsunoda  dari Racing Bulls promosi ke Red Bull sebagai pendamping Max Verstappen.

Berpatokan pada ketiadaan kontrak tadi, maka mungkin saja Doohan akan menjadi pembalap kedua di F1 2025 yang harus tersingkir dari timnya saat musim kompetisi sedang berjalan. (r)