mobilinanews (Jakarta) - Moereno Soeprapto baru saja dikukuhkan resmi menjadi Ketua Umum Ikatan Motor Indonesia (IMI) Pusat.
DNA-nya memang otomotif, khususnya motorsport. Ia anak legenda balap Indonesia, Tinton Soeprapto. Kakaknya, Ananda Mikola, juga jadi legenda balap Indonesia di kancah single seater (Formula 4 dan 3) di Eropa pada 1990-an.
Reno, panggilannya, belum menjadi legenda balap meski juga punya prestasi mumpuni. Tentu saja tak ada lagi waktu dan kesempatannya untuk menjadi pembalap legendaris seperti papa dan kakaknya.
Tapi, Reno punya potensi menghadirkan para pembalap legendaris nantinya. Sangat mungkin terwujud jika tagline kepungurusannya "Arah Baru IMI Menuju Prestasi Internasional" bisa berjalan dan konsisten.
Arah Baru IMI Menuju Prestasi Internasional, itu tentu bukan sekadar tagline atau slogan. Di dalamnya sudah terkonsep dalam program prioritas yang terstruktur dan saling mengikat. Bukan lagi sekadar ucapan, tapi sudah masuk kerjaan yang pasti.
Dalam sambutannya, Reno menyebut program utama kepengurusannya adalah pembinaan pembalap usia 6 sampai 16 tahun. Keren!
Dan, ia bilang, pembinaan bukan hanya dari aspek manusianya, tetapi saat sama juga utus ekosistem penopangnya macam regulasi yang kuat dan konsisten, peningkatan kualitas Marshall serta pengembangan dan standarisasi sirkuit nasional.
Ia juga paham bahwa semua itu tak akan ada artinya jika pada saat yang sama tak tersedia kompetisi regular yang menjadi lahan proses pengembangan dan pematangan bibit-bibit muda di semua cabang motorsport. Ya, dalam bidang olahraga apa pun, nonsens bicara pembinaan tanpa kompetisi yang sehat dan konsisten.
"Tahun depan kami mulai dengan 198 event Kejuaraan Nasional di berbagai cabang plus sekitar 1800-an Kejuaraan Daerah. Semuanya untuk memastikan anak usia 6 sampai 16 tahun ini mendapat kesempatan bertanding dari level daerah ke nasional," tandasnya. Keren lagi!
Usia 6 sampai 16 tahun tentunya merujuk pada cabang balap gokart/karting (nantinya lanjut ke balap mobil turing/reli/offroad/single seater) dan cabang balap motor (sirkuit/motokros/offroad).
Soal bakat, melimpah. Tanpa publikasi massif sudah ada beberapa pegokart muda Indonesia yang tinggalkan jejak prestasi di level Asia dan Eropa dalam 2 dekade terakhir.
Balap Motor, apalagi!
Di level Asia, ARRC, bukan sekali dua kali rider Indonesia tampil dominan tapi sering. Sudah ada Macan Asia-nya. Di serial Asian Talent Cup (ATC) gelaran Dorna Sports pun saban tahun ada wakil Indonesia yang menonjol bahkan juara.
Terbaru dan masih mengharumkan adalah pencapaian Veda Ega Pratama di kancah Red Bull Rookies Cup, ajang pembinaan seperti ATC di Eropa, yang terkenal sebagai kawah candradimuka bagi para pembalap remaja untuk menapak karir ke jalur Moto3/2/MotoGP.
Dalam usia 17 tahun musim depan, Vega akan bertanding regular di Moto3. Apakah ia nanti sampai di Moto2 atau MotoGP tentu itu bergantung pada takdirnya, pada kapasitas tim, sponsor dan manajemen dirinya sendiri. Tugas IMI adalah menyediakan semua perangkat yang memungkinkan hadirnya Veda lain.
Dari paparan Reno saat pidato dan saat bincang dengan media, maka bisa disimpulkan kalau rangkaian program yang sudah ia canangkan adalah berpusat pada niat dan upaya kerja untuk menciptakan Veda-Veda lain di berbagai disiplin motorsport.
Tak mudah, pasti!
Tapi, bisa! Dan upaya itu akan semakin mudah jika tools yang diprogramkan Reno berupa kompetisi regular di level daerah dan nasional itu bisa hadir berbarengan dengan infra strukturnya penopangnya seperti sirkuit standar, regulasi standar dan manajerial kompetisi yang juga minimal standar.
Program khusus 6 sampai 16 tahun ini layak digarisbawahi. Ini adalah pondasi. Ini vital. Sebab jika bicara prestasi, atlet otomotif itu tak ada batas usia spesifik. Contohnya baru beberapa hari lalu. Sebastien Ogier meraih gelar juara dunia FIA- 2025 World Rally Championship (WRC) di seri Rally Arab Saudi. Itu trofi ke-9-nya menjadi juara dunia WRC dan diraih pada usia 41 tahun. Marc Marquez pun menggenggam gelar juara dunia MotoGP kali ketujuh tahun ini dalam usia 32.
Ya, pondasi dasarnya adalah usia 6-16 tahun itu plus kualitas kompetisi yang ia ikuti. Yang mengasah bukan saja skill, tetapi juga disiplin dalam banyak area serta membangun sikap profesionalisme, termasuk dalam hal bertutur kata.
Karena itu program khusus IMI era Reno ini patut jadi headline menyongsong era kepemimpinannya. Menjadi garis tebal di antara seabreg tanggung jawab lainnya sebagai ketua.
Sebuah program prestisius yang pastinya tak dapat diwujudkan hanya oleh Reno dan para pembantunya di IMI. Bisa berkembang dan terus semakin berkembang jika didukung oleh pemangku hajat lainnya, terutama dari kalangan dunia usaha dalam konteks pengembangan infrastruktur dan kompetisi tadi. Bagaimana agar dunia usaha tertarik, biarkanlah ia dan jajarannya yang berpikir dan bergerak.
"Kejuaraan ini direncanakan sebagai wadah pembinaan bagi pembalap muda sejak usia 6 tahun hingga 16 tahun, memastikan mereka mendapat kesempatan bertanding dari tingkat daerah hingga nasional."
Itu quote menarik dari Reno. Semacam tekad atau janji. Yang jadi bagian dari ruh 'Panji Prasetya' yang tersirat saat ia disumpah dan dilantik Ketua Umum KONI Marciano Norman.
Pada masa periode pertama kepengurusannya, bahkan pada periode kedua jika ia terpilih lagi dan bersedia, tentu berlebihan jika publik atau komunitas balap nasional menuntut atau sekadar berharap sudah bertebaran atlet Indonesia di ajang balap Internasional.
Yang terpenting pada masa tersebut adalah konsistensi kompetisi usia 6-16 di Sirkuit standar tadi. Syukur jika dunia sponsor mendukung sehingga aura kompetisinya makin hidup. Jika kompetisi ini berjalan konsisten dengan kualitas penyelenggaraan dan kualitas pembalap terarah, pastinya jalur meraih prestasi Internasional semakin terbuka. Jauh lebih terbuka dari balap jalanan yang selama ini semarak.
Jika sudah selesai 16 tahun, lantas kemana? Itu tadi, tergantung talenta yang sudah tampak dan tergantung takdir masing-masing. Bisa saja langsung ngegas di kancah kompetisi nasional atau regional besutan promotor profesional. Atau, jika bernasib baik, dapat sokongan penuh ke Eropa seperti didapat Veda dari Honda Indonesia. Atau, alternatif lain, masuk akademi-akademi balap milik tim-tim besar di MotoGP dan F1.
Itu saja dulu, kepastian kompetisi. Jika bisa berlangsung konsisten saja, bolehlah komunitas otomotif Indonesia beri jempol pada Reno dan sederet timnya yang datang dari berbagai background.
Mungkin saja akan hadir juara-juara nasional yang kemudian tembus laga Internasional dan berprestasi. Mungkin juga ga ada, itu pahitnya, tapi jika model kompetisinya bisa bertahan dan diteruskan sampai periode berikut maka ini adalah sebuah keberhasilan. Yang penting sudah ada wadah dan pola kompetisinya, berjalan dan bisa dikembangkan sesuai zaman.
Tentu saja kita, komunitas balap Indonesia, boleh berharap program keren ini tak hanya konsisten. Tapi juga hadirkan atlet Internasional seperti tujuannya. Waktu yang akan beri bukti.
Ya, mudah-mudahan ada dan banyak meski tak harus juara dunia. Agar nantinya Reno juga bisa dikenang sebagai legenda tersendiri sebagai Ketua IMI paling konsisten dengan program pembinaan pembalap muda.(*)