Strategis Mazda Jawa Dinamika Pasar Otomotif Nasional

Rabu, 17/12/2025 12:35 WIB | Wilfrid Kolo
Chief Operating Officer PT Eurokars Motor Indonesia, Ricky Thio dan Mazda CX-60 yang menggoda konsumen
Chief Operating Officer PT Eurokars Motor Indonesia, Ricky Thio dan Mazda CX-60 yang menggoda konsumen

mobilinanews (Jakarta) - Memasuki penghujung tahun 2025, pasar otomotif Indonesia menunjukkan dinamika yang menuntut adaptasi dan visi strategis yang lebih matang menjawab pasar.

Berdasarkan laporan Gaikindo, pada Q3 tahun 2025 dan analisis pasar otomotif lokal oleh PwC Indonesia (2025), struktur permintaan konsumen terlihat bergeser.

Beberapa segmen melemah, sementara segmen lain menunjukkan ketahanan dan pertumbuhan. Fenomena ini mencerminkan perubahan preferensi konsumen Indonesia.

Chief Operating Officer PT Eurokars Motor Indonesia, Ricky Thio memberikan perspektif strategis mengenai kondisi tersebut.

“Di Indonesia, sebagian besar orang masih menganggap mobil sebagai means of mobility, elemen penting dalam kehidupan sehari-hari. Di sisi lain, banyak orang juga melihat mobil sebagai cara untuk enrich the quality of life, sejalan dengan pemikiran Mazda bahwa the joy of driving may create the joy of living,” kata Ricky Thio.

Melihat hal tersebut, Mazda menilai bahwa perubahan preferensi konsumen berbicara mengenai dua hal utama, kebutuhan rasional dan aspirasi emosional. 

Menjaga Momentum Positif

Kondisi pasar pada Q3 tahun 2025 menunjukkan kompetisi yang semakin sehat. Di tengah perlambatan beberapa segmen, Mazda menjadi salah satu brand yang mampu menjaga stabilitas performa-nya.

Ricky menyampaikan bahwa Mazda hanya mengalami penurunan 0,12% market share pada Oktober 2025, lebih rendah dibanding beberapa pabrikan Jepang lain yang terkoreksi 2–3%. 

Pada level retail, kontraksi sebesar 39% hingga 44% terjadi pada beberapa brand kompetitor asal Jepang dan Eropa di segmen kendaraan premium. 

Saat ini, Mazda berada di 29%, ditopang oleh performa stabil Mazda CX-5, Mazda CX-3, dan Mazda 3 Hatchback, line-up yang dikenal dengan keindahan desain dan karakter berkendara khas Mazda.

Emotional appeal adalah kekuatan kami. Konsumen membeli bukan hanya karena logika, tetapi juga cinta terhadap desain dan kualitas produk Mazda,” ujar Ricky.

Ricky menekankan bahwa terdapat beberapa faktor dalam pembelian kendaraan di Indonesia. Konsumen kini semakin cermat menilai Total Ownership Cost (TOC), yang mencakup biaya aftersales (service & maintenance), biaya registrasi dan administrasi, hingga nilai jual kembali (resale value).

Baginya, ekosistem otomotif dipengaruhi pula oleh elemen eksternal, seperti regulasi pemerintah, dinamika industri, dan kesiapan infrastruktur, semua-nya membentuk momentum pasar dan arah preferensi konsumen.

“Indonesia adalah salah satu pasar otomotif yang sangat value competitive.Banyaknya value proposition dari berbagai APM (Agen Pemegang Merek), konsumen perlu mampu menggabungkan faktor rasional seperti TOC, dengan kebutuhan personal mereka,” paparnya.

Selain perhitungan rasional seperti biaya kepemilikan, Mazda juga melihat bahwa keputusan pembelian kendaraan kini ditentukan oleh supplement factors, seperti reliabilitas, kualitas produk, efisiensi bahan bakar, keamanan, kenyamanan berkendara, dan nilai emosional antara pengendara dan kendaraan-nya.

Mazda menanamkan hal ini melalui filosofi KODO Design dan Jinba Ittai, bahwa kendaraan bukan sekadar alat transportasi, tetapi partner berkendara. “Beauty is universal. Emosionalitas desain adalah bahasa yang dipahami semua orang,” kata Ricky.