Geely Taruhan Besar pada Metanol: Mengapa Baterai Litium Saja Tak Cukup bagi Li Shufu?

Selasa, 21/04/2026 14:05 WIB | Ade Nugroho
Geely
Geely

 

mobilinanews (Jakarta) – Di tengah euforia global terhadap kendaraan listrik (EV) berbasis baterai litium, raksasa otomotif Tiongkok, Geely, justru mengambil langkah yang cukup provokatif. Chairman Geely, Li Shufu, secara terbuka menyuarakan "kegelisahannya" terhadap dominasi baterai litium dan mulai memacu akselerasi teknologi berbasis metanol.

Ini bukan sekadar mencari sensasi, melainkan sebuah manuver strategis untuk menjawab problem fundamental otomotif masa depan: efisiensi massa.

1. Masalah "Obesitas" pada Mobil Listrik

Dalam Forum Pengembangan Kendaraan Listrik Pintar Tiongkok 2026, Li Shufu melontarkan argumen teknis yang cukup menohok. Menurutnya, mobil listrik berbasis baterai saat ini menderita masalah berat badan yang serius.

Logikanya sederhana: semakin berat sebuah kendaraan, semakin besar pula energi yang dibutuhkan untuk menggerakkannya. Untuk transportasi beban berat (logistik), ketergantungan pada baterai raksasa justru bisa menjadi bumerang bagi efisiensi energi nasional.

2. Metanol sebagai Jalur Hijau yang Lebih Logis?

Strategi Geely ini tidak tumbuh di ruang hampa. Pemerintah Tiongkok melalui berbagai kementerian mulai mempercepat transisi ekonomi hijau dengan memasukkan hidrogen dan metanol ke dalam infrastruktur energi nasional mereka.

Hingga saat ini, penetrasi metanol di Tiongkok sudah mencapai tahap yang matang:

  • 39 Kota di 20 wilayah provinsi telah mengadopsi kebijakan pendukung metanol.

  • Substitusi Energi: Metanol dipandang sebagai solusi praktis untuk kemandirian energi dan pengurangan emisi tanpa harus bergantung sepenuhnya pada rantai pasok material baterai yang semakin kompetitif.

3. Dari Sirkuit Balap hingga Pasar Global

Geely membuktikan bahwa metanol bukan sekadar teori di laboratorium. Mereka telah mendaftarkan varian plug-in hybrid untuk sedan Galaxy Starshine 6 yang menggunakan mesin 1,5 liter berbasis metanol. Bahkan, teknologi ini telah diuji di kondisi ekstrem melalui ajang balap motor menggunakan bahan bakar M100 (metanol murni).

Langkah berani ini dibarengi dengan performa bisnis yang impresif. Pada kuartal pertama 2026, ekspor Geely meroket hingga 126% (lebih dari 200.000 unit). Kepercayaan diri ini membuat mereka berani menaikkan target ekspor tahunan menjadi 750.000 unit.

Sudut Pandang Analis:

Keputusan Geely untuk melakukan diversifikasi energi menunjukkan bahwa masa depan otomotif mungkin tidak akan didominasi oleh satu jenis teknologi saja. Di saat merek lain sibuk mengejar kapasitas baterai, Geely memilih untuk "diet" bobot melalui metanol. Bagi konsumen dewasa yang kritis, ini adalah sinyal bahwa kompetisi teknologi hijau baru saja dimulai.