mobilinanews (Jakarta) – Bagi pemilik atau calon pembeli mobil listrik (EV), range anxiety atau kekhawatiran akan jarak tempuh masih menjadi ganjalan utama. Namun, sebuah terobosan dari University of Surrey baru-baru ini menjanjikan lompatan besar: baterai yang tidak hanya bertahan lebih lama, tetapi juga memiliki kapasitas penyimpanan energi berkali-kali lipat dari teknologi saat ini.
Selama ini, baterai lithium-ion yang kita gunakan bergantung pada grafit sebagai material anoda. Meski stabil, grafit memiliki batas kapasitas yang rendah. Para ahli sebenarnya sudah lama melirik silikon sebagai alternatif karena mampu menyimpan energi jauh lebih besar.
Namun, silikon punya masalah fisik yang fatal: ia memuai dan menyusut secara ekstrem saat diisi daya, yang menyebabkannya retak dan hancur dalam waktu singkat.
Tim dari Advanced Technology Institute (ATI) berhasil memecahkan teka-teki tersebut dengan desain yang mereka sebut VISiCNT (Vertically Integrated Silicon–Carbon Nanotube).
Secara sederhana, peneliti tidak menggunakan silikon murni yang kaku. Mereka mengintegrasikan silikon ke dalam jaringan karbon nanotube yang berdiri tegak secara vertikal. Struktur ini berfungsi seperti "kerangka fleksibel" yang memberikan ruang bagi silikon untuk mengembang tanpa merusak integritas baterai.
Ada tiga poin utama yang membuat teknologi ini sangat relevan bagi industri otomotif masa depan:
Kapasitas Drastis: Dalam pengujian, anoda ini mencapai kapasitas lebih dari 3.500 mAh/g. Sebagai perbandingan, anoda grafit konvensional hanya mampu menyentuh angka 370 mAh/g. Artinya, potensi kepadatan energi meningkat hingga hampir 10 kali lipat.
Umur Pakai Lebih Panjang: Dengan struktur nanotube yang stabil, risiko baterai "drop" atau rusak akibat siklus pengisian daya yang sering (masalah utama pada silikon biasa) dapat diminimalisir.
Produksi Massal yang Realistis: Berbeda dengan inovasi laboratorium yang seringkali sulit diproduksi, teknologi VISiCNT ditumbuhkan langsung di atas lembaran tembaga. Ini berarti prosesnya kompatibel dengan lini produksi baterai yang sudah ada saat ini.
Ravi Silva, Direktur ATI, menekankan bahwa inovasi ini bukan sekadar teori laboratorium. Ke depannya, teknologi ini diharapkan mampu memangkas waktu pengisian daya dan menghilangkan keterbatasan jarak tempuh pada kendaraan listrik.
Bagi industri, ini adalah langkah besar menuju komersialisasi anoda silikon yang selama ini dianggap sebagai "cawan suci" dalam dunia penyimpanan energi. Jika integrasi ini berjalan mulus, generasi mobil listrik berikutnya mungkin tidak lagi perlu membawa paket baterai yang berat untuk sekadar mencapai jarak 500 kilometer.