Era Digital, Industri Otomotif Harus Merespon!

Senin, 14/12/2015 16:04 WIB |
Budi Prasetyo Susilo, Senior Advisor GAIKINDO
Budi Prasetyo Susilo, Senior Advisor GAIKINDO "Bagi produsen yang tidak berorientasi ke arah digital, pasti akan ditinggal konsumen. Karena semua itu mengarah ke kepuasan pelanggan."

mobilinanews (Jakarta) - Di zaman yang serba terkait urusan digital saat ini, para pelaku industri otomotif nasional juga dituntut untuk bisa beradaptasi serta merespon hal ini agar tidak ketinggalan.

Hal tersebut diungkapkan oleh Budi Prasetyo Susilo, Senior Advisor GAIKINDO saat pemaparan soal teknologi digital kaitannya dengan otomotif. Menurutnya saat ini teknologi digital menjadi salah satu aspek yang tidak bisa dipisahkan dengan dunia otomotif.

"Di masa depan, kendaraan juga harus bisa berkomunikasi dengan smartphone. Kendaraan juga harus berkomunikasi dengan pusat infrastruktur lalu lintas untuk memantau soal traffic, bahkan kendaraan juga harus bisa berkomunikasi dengan road infrastructure dan berkomunikasi dengan network yang ada," sebut Budi di seminar bertema "Menyambut Pertumbuhan Era Digital di Industri Otomotif" yang digelar Mobil123.com di Pisa Cafe Mahakam, Jakarta, Senin (14/12).

Sementara hubungan antara produsen otomotif dengan konsumen juga sudah harus mulai menerapkan konsep digital. Lewat teknologi tersebutlah produsen bisa semakin dekat dengan konsumennya.

"Bagi produsen yang tidak berorientasi ke arah digital, pasti akan ditinggal konsumen. Karena semua itu mengarah ke kepuasan pelanggan," lanjutnya.

Hal inilah yang diterapkan oleh Mobil123.com di Indonesia dalam upayanya mempertemukan antara pembeli dan penjual yang terpercaya di satu platform dengan listing kendaraan berkualitas dan riset, serta review kendaraan untuk menciptakan sebuah pengalaman jual beli yang terbaik.

Ini juga yang menjadi salah satu upaya pendorong agar industri otomotif Indonesia juga mulai merespon kehadiran era digital tadi.

Seperti yang kita tahu, saat ini industri otomotif Indonesia sedang berada di dalam kondisi yang cukup terpuruk. Dijelaskan oleh Budi bahwa untuk pasar otomotif roda empat penurunannya mencapai 18-20 persen. Sementara untuk roda dua mengalami penurunan sampai 20 persen.

"Penurunan yang paling parah terjadi di industri komponen yang mengalami penyusutan pertumbuhan mencapai 40-60 persen," pungkas Budi.