mobilinanews (Jepang) - Dua kali tepok 10 poin Jorge Martin (Aprilia) dicaplok Marc Marquez (Ducati) lewat kemenangan ganda sprint dan main race GP Jepang. Tinggal tunggu hasil di GP Indonesia, Mandalika, pekan depan.
Kemenangan ganda di Sirkuit Motegi itu lewat kejeniusannya yang memang di atas rata-rata rider MotoGP. Ia tahu betul kelebihan dan kekurangan lawan, dalam hal ini Martin yang menuju Jepang dengan keunggulan 12 poin atas MM93.
Itu sebabnya strategi Marquez berbeda saat sprint dan balapan utama. Saat sprint yang berdurasi 12 lap, ia langsung fight untuk berebut posisi terdepan dan sukses menyalip Martin pada tikungan ketiga. Ia tak ingin ambil resiko fight di T1.
"Di single lap, saya kalah cepat. Tapi, pada race pace saya unggul. Saya butuh posisi terdepan lebih cepat karena hanya 12 lap. Besok tentu berbeda," katanya.
Benar saja. Pada main race Minggu (4/10) polà permainan Marquez berubah. Ia.membiarkan Martin memimpin di baris depan sejak lap awal. Ia hanya membuntuti dengan jarak aman, sesekali gunakan slipstream guna menjaga suhu ban.
Baru pada pertengahan lomba Marquez menyalip lawan dengan cara yang benar-benar cerdas. Saat Martin Baru ancang-ancang masuk zona pengereman, Marquez justru sudah membelokkan arah Desmosedici GP26 menuju titik dalam tikungan. Dan, dengan mudah ia menyalip Martin. Fans MM93 di Motegi pun berdiri dan tepuk tangan.
"Saya senang strategi kami berhasil. Saya memang tak ingin meberi tekanan sejak awal karena saya yakin punya race pace (kecepatan rata-rata) yang lebih baik," tandas si jenius.
Minggu depan sirkus MotoGP melipir ke GP Indonesia. Marquez hanya butuh merampok 2 poin saja dari Martin untuk memimpin kembali klasemen musim ini. Artinya, jika memenangkan sprint race maka saat itu juga Marquez jadi pemimpin baru. Tinggal menambah poin ekstra dari main race yang mendistribusikan jumlah poin lebih banyak.
Tapi ia kudu hatiāhati. Mandalika bukan tempat yang menyenangkan buat Marquez. Bahkan ini trek misterius dan berbahaya untuknya.
Ya, Mandalika memang selalu bawa sial untuk pemegang 9 gelar grand prix itu. Tiga kali main di Mandalika, tiga-tiganya berakhir crash dan retire. Artinya, belum satu biji poin pun diraih Marquez pada main race sirkuit milik BUMN itu. Sekali bersama Honda pada musim 2023 dan berikutnya bersama Gresini Ducati (2024) dan tim pabrikan Ducati (2025). Tiga kali buruk beruntun seolah ia `terkutuk` di Mandlika.
Tahun lalu ia ditubruk Marco Bezzecchi (Aprilia) hingga terlempar ke gravel. Ia cidera parah sehingga absen dalam 4 sisa balapan (untungnya sudah kunci gelar 2025 di Jepang) dan absen pula dalam beberapa sesi tes. Kondisi belum pulih 100% sampai beberapa race awal musim 2026.
Tapi, bukan hanya karena peristiwa buruk itu maka Marquez kudu-hati dengan Bezzecchi.
Dari sisi hitungan poin dan strategi tim, Bezzecchi adalah pembalap paling berbahaya buat Marquez.
Martin masih memimpin klasemen dengan total poin 333, dipepet Marquez dengan nilai 331 sementara Bezzecchi baru mengoleksi 284 angka atau defisit 49 dan 47 poin dari dua yang di atasnya.
Sangat sulit untuk Bezzecchi tetap tarung dalam perebutan gekar 2026 karena sisa balapan tahun ini mulai Mandalika sampai Valencia hanya 6 seri. Itu pun jika seri Qatar pada November jadi dihelat. Bisa juga batal jika situasi perang di Timur Tengah masih bergejolak.
Artinya, Bezzecchi harus memenangkan semua balapan untuk mencetak gelar juara dunia tahun ini. Padahal, sejak GP Italia pada 31 Mei lalu ia tak pernah lagi mencicipi kemenangan.
Jika Bezzecchi ngotot untuk terus berjuang maka apa pun akan ia lakukan untuk meraihnya, termasuk fight super keras penuh resiko melawan Martin, apalagi melawan Marquez. Dan, itu harus dimulai dari seri Mandalika.
Itu sebab MM93 kudu hati-hati jika starting grid-nya nanti berdekatan dengan Bezzecchi. Apalagi, faktanya, Mandalika bukan tempat keberuntungan Marquez.
Bos Aprilia Massimo Rivola menegaskan tidak akan menerapkan team order selama Martin dan Bezzecchi masih sama-sama berpeluang meraih gelar.
Tapi, itu adalah ucapan Rivola ke publik. Percakapan di internal tim belum tentu begitu. Bisa saja Bezzecchi wajib segera membantu Martin dengan cara apa pun karena situasi Martin saat ini sudah di zona bahaya. Sebaliknya kondisi Bezzecchi tidak meyakinkan.
Mudah-mudahan tidak seperti itu atas nama sportivitas. Ya, mudah-mudahan karena faktanya di gelanggang olahraga sekarang ini permainan politik pun acap jadi bumbu permainan. (r)