Noergadjito : Tanpa Lokalisasi, Merek Kendaraan Apapun Sulit Bersaing di Pasar Indonesia

Jum'at, 05/02/2016 16:52 WIB |
Salah satu merek otomotif yang memiliki manufacturing di Indonesia sanggup bertahan melewati suramnya industri otomotif 2015
Salah satu merek otomotif yang memiliki manufacturing di Indonesia sanggup bertahan melewati suramnya industri otomotif 2015

mobilinanews (Jakarta) - Sebuah fakta menarik diungkapkan oleh Sekertaris Jenderal GAIKINDO, Noergadjito, terkait produk otomotif yang dibawa dari luar masuk ke Indonesia (CBU). Disebutkan Noergadjito, merek otomotif apapun yang jualan di Indonesia, selama tidak berminat untuk melakukan lokalisasi, maka produk tersebut akan susah bersaing.

"Kalau tidak lokalisasi, tidak akan bisa bersaing. Impor dari Thailand atau Malaysia sekalipun, pasti jatuhnya akan mahal dijual di Indonesia," sebut Noergadjito. "Paling minimum akan lebih mahal 7 persen. Lah kalau harganya 300 juta-an, 7 persen dari 300 juta kan lumayan, bisa beli 4 buah ban," celetuk Noergadjito.

Menurutnya berbagai macam biaya yang dibebankan saat kendaraan tersebut masuk Indonesia menjadi alasan tingginya harga kendaraan CBU. Apalagi dengan nilai tukar Dollar yang seperti sekarang, membuat pemain kendaraan impor harus tahan nafas.

Dengan kondisi seperti ini (harga yang tidak kompetitif), beberapa Agen Pemegang Merek (APM) yang hanya mengandalkan penjualan produk CBU akhirnya sulit untuk bersaing. Beda dengan merek mobil yang sudah punya kegiatan manufacturing. Meski kondisi pasar sulit, namun harga mereka masih bisa bersaing.     

"Di GAIKINDO, ada 3 kelompok besar anggota. Pertama, merek yang punya pabrik, kedua, merek yang punya kegiatan manufacturing tapi tidak punya pabrik, dan yang ketiga adalah merek yang hanya melakukan aktifitas jualan saja tanpa punya kegiatan manufacturing dan pabrik," jelasnya.

PT Ford Motor Indonesia (FMI), distributor tunggal merek kendaraan Ford di Indonesia merupakan salah satu anggota GAIKINDO yang menghuni kelompok terakhir. Baru-baru ini prinsipal Ford Amerika mengumumkan rencananya untuk menghentikan seluruh lini usahanya Tanah Air dengan alasan tidak adanya proyeksi keuntungan selama melakukan bisnis di Indonesia. (Zie)