mobilinanews.com (Jakarta) – Kalimat itu selalu terucap lantang dari celah bibir Lola Moenek, General Manager PT Sarana Sirkutindo Utama (SSU) pengelola sirkuit Sentul Internasional, Bogor. Bahkan kalimat itu sudah seperti menjadi trade mark perempuan gesit yang sukses mengelola sirkuit sepanjang 4,2 kilometer itu. Khusus ketika ia berhadapan dengan wartawan.
Tapi, belakangan wanita setengah baya berdarah Padang ini tidak lagi menyuarakan kalimat khas itu. “Soalnya, Sentul sekarang sudah top. Hampir tidak ada slot kosong dari kegiatan balap maupun non-balap. Boleh dibilang, sirkuit Sentul laris manis,” ujarnya kepada mobilinanews pekan lalu.
Lola ingin menunjukkan, berkat kerja keras dan kepintarannya ‘menjual’ sirkuit internasional satu-satunya di Indonesia itu, dalam 5 tahun terakhir tak perlu lagi melafalkan ‘Topin Sentul dong’.
“Jadi, sirkuit Sentul ini serbaguna. Kalau untuk kegiatan balap, nyaris tidak ada yang kosong setiap minggunya untuk balap. Lihat saja, minggu ini (minggu lalu) ada balap motor IRS, minggu depan ada grand final One Make Race Suzuki Satria dan akhir bulan 27-28 Maret ada seri OMR Yamaha. Begitu seterusnya, tidak ada habisnya event di Sentul,” bangganya.
Bahkan di minggu kedua April depan, mulai digelar seri balap mobil ISSOM sebagai rangkaian 6 seri yang akan dihelat sepanjang 2015. “Gila nggak, total ada 18 kelas balapan yang akan digelar. Sampai pusing mengaturnya. Karena semua ingin mendapat jadwal lomba di prime time. Kan nggak mungkin,” ungkap Lola.
Sebagai penyelenggara event yang berpengalaman, wanita berkacamata ini tetap memiliki solusi seberat apapun menyangkut scheedule balap. Lola bilang, diusahakan semua kelas itu bisa digelar pada hari Minggu. Tetapi, jika tidak memungkinkan sebagian akan dilombakan pada Sabtu.
Bagaimana dengan event yang non-balap? Tak kalah padatnya. Selain untuk ajang test drive produk baru untuk mobil dan motor, juga untuk pengetesan produk komponen pendukung otomotif seperti ban. Belum lagi untuk kegiatan klub otomotif bahkan keperluan shooting film dan sinetron.
“Jadi tarif sewa di Sentul itu jangan dikira mahal. Tergantung keperluannya. Misalnya, hanya lapangan parkir bawah yang disewa untuk beberapa jam, ya murah. Atau pakai lintasan balap itu tergantung dari peruntukkannya. Bisa jadi ada beberapa kegiatan yang berbeda di satu hari yang sama di Sentul. Pernah juga itu,” urainya.
Namun jika menyewa komplit dari lintasan balap, paddock, hospitality, alat pencatat waktu hingga petugas Racing Committe ya jadi mahal.
Dengan laris manisnya sirkuit Sentul kini, jadi kangen mendengar celotehan Lola beberapa tahun lalu. Topin Sentul dong !