Soebronto Laras : 70 Tahun Merdeka, Tak Yakin Ada Mobnas di Indonesia

Selasa, 11/08/2015 14:58 WIB |
Bawah, awak redaksi mobilinanews bersama Pak Bronto. Tidak perlu bermimpi mobnas
Bawah, awak redaksi mobilinanews bersama Pak Bronto. Tidak perlu bermimpi mobnas

mobilinanews (Jakarta) - Salah satu legenda hidup otomotif Indonesia, Soebronto Laras tidak begitu yakin bakal lahir mobil Indonesia (mobnas) di Indonesia. Beberapa alasan disampaikan kepada mobilinanews di kantornya, Gedung Indomobil Jl MT Haryono, Jakarta, baru-baru ini.

“Kalau melihat kondisi industri otomotif sekarang, rasanya berat untuk membangun mobil nasional. Situasinya sudah berubah dengan kepemilikan saham Agen Pemegang Merek (APM) dikuasai Jepang,” ujar Pak Bronto, sapaan karibnya.

Hal itu semakin susah karena untuk posisi vital dipegang langsung profesional dan perwakilan owner dari Jepang. Semua posisi penting diisi utusan dari negara Matahari Terbit itu.

mob

“Kalaupun ada satu dua orang direktur, itu hanya sleeping partner. Policy tetap dikendalikan Jepang,” sebutnya Chairman Indomobil group itu.

Titik balik itu terjadi ketika terjadi krisis moneter pada 1998 lalu. Dengan hancurnya nilai mata uang rupiah dan menguatnya dolar Amerika Serikat, investasi di bidang otomotif berubah menjadi hutang.

Kondisi ini diperparah dengan kenyataan industri otomotif itu padat modal. Pak Bronto pun memberi ilustrasi, Suzuki membangun pabrik baru di Karawang, Jawa Barat  di atas lahan 120 hektar dengan investasi 1 miliar dolar AS.

“Itu sama dengan Rp 130 triliun lebih. Mana ada perusahaan nasional yang mampu? Bisa mabuk kita. Yang bisa ya investor asing, pabrikan Jepang,” ungkapnya.

Lalu bagaimana dengan rencana Letjen Purn Hendroprijono membangun mobil nasional melalui Esemka dengan teknologi Proton? “Kalau itu, Anda sendiri mestinya bisa berkomentar dong,” ujarnya sembari tersenyum.

Pak Bronto pun memberi contoh dulu Pak Habibie juga pernah bermimpi dan merancang mobnas dengan nama Maleo. Basic teknologinya diambil dari Australia. Tapi toh akhirnya gagal juga. “Saat itu, Pak habibie kurang apa? Boleh dibilang lost meter,” sebutnya.

Saat Pak SBY, pernah menginstruksikan untuk membuat angkutan pedesaan. Tapi menurut Pak Bronto itu membingungkan. Maksudnya apa angkutan pedesaan? Karena harus tetap memakai standar sebuah kendaraan yang layak jalan.

Lalu, pria yang hobi bersepeda ini memberi contoh soal pasar bebas ASEAN yang akan segera bergulir akhir tahun ini. Secara merek di ASEAN, hanya Malaysia yang punya Proton. Tapi itupun teknologinya dari Mitsubishi. Apakah Proton berhasil? Wallahualam.

Maka itu bukan bermaksud pesimis dan tidak nasionalis, Pak Bronto minta realistis. “Jadi masih ada perusahaan komponen pendukung yang bisa bekerja sama dengan APM, lalu tenaga kerja kita dipakai di APM, itu sudah cukup bagus. Ya kita realistis saja,” pungkasnya.