Mobilinanews (Jakarta) - Program diskon besar-besaran untuk motor listrik Honda belakangan jadi sorotan publik, terutama di media sosial. Pasalnya, penurunan harga yang sangat signifikan membuat sejumlah konsumen yang sudah lebih dulu membeli merasa dirugikan.
Salah satunya adalah Fauzhan Alde Baran, seorang konsumen Honda CUV e: yang membeli unitnya pada Mei 2025 lalu. Dalam postingannya di grup Facebook Komunitas Sepeda/Motor Listrik (KOSMIK) Indonesia, Fauzhan mengungkapkan kekecewaannya karena membeli motor sebelum harga diskon diberlakukan.
“Cicilan baru jalan satu kali, tapi sekarang harganya sudah anjlok drastis. Saya bingung harus lanjut atau balikin aja ke leasing,” tulis Fauzhan dalam unggahan tersebut.
Sebagai informasi, harga Honda CUV e: awalnya dibanderol Rp 54,45 juta. Namun, setelah program potongan harga yang digulirkan Honda, banderolnya kini turun jadi sekitar Rp 19 jutaan saja — selisih nyaris Rp 35 juta!
Tak hanya CUV e:, dua model motor listrik Honda lainnya juga mengalami pemangkasan harga besar-besaran. Honda EM1 e: yang tadinya dijual Rp 40 juta kini hanya Rp 16 jutaan, sementara Honda ICON e: dari Rp 28 juta menjadi Rp 21 jutaan.
Fauzhan bahkan menyebut total pembiayaan motor yang dia cicil mencapai Rp 72 juta. Jika harus tetap mencicil dengan harga tersebut di tengah realitas harga pasar yang jauh lebih rendah, dirinya merasa dirugikan secara finansial.
“Kalau dikembalikan ke leasing, ada kompensasi atau nggak ya? Kalau lanjut, rugi belasan juta. Kalau dibalikin, saya harus siap mental juga,” lanjutnya.
Kondisi ini menimbulkan dilema nyata bagi konsumen. Di satu sisi, mereka sudah terikat kontrak cicilan; di sisi lain, harga pasar motor yang dibelinya sudah tak masuk akal dibandingkan dengan harga sebelumnya.
Hingga kini, belum ada tanggapan resmi dari pihak PT Astra Honda Motor (AHM) maupun PT Wahana Makmur Sejati (WMS) selaku main dealer Honda di Jakarta-Tangerang. Pihak media sudah mencoba menghubungi keduanya, namun belum mendapatkan jawaban.
Kasus seperti ini menjadi cermin penting bagi pelaku industri otomotif, terutama dalam transisi ke kendaraan listrik. Konsumen semakin kritis, dan strategi harga harus dibarengi dengan komunikasi serta solusi yang adil bagi mereka yang sudah lebih dulu membeli.