F1 2026: Max Verstappen Prediksi Akan Ada Tim yang Retak dalam Waktu Dekat, Sindir Fenomena Dua `Singa Alpha`

Sabtu, 10/01/2026 11:06 WIB | bagas
Max Verstappen (Foto: F1)
Max Verstappen (Foto: F1)

Mobilinanews (Jakarta) - Dalam dunia Formula 1 (F1) yang penuh tekanan, komposisi pembalap seringkali menjadi teka-teki paling rumit bagi seorang bos tim. Max Verstappen, baru-baru ini memberikan pandangannya mengenai struktur tim ideal.

Pembalap Red Bull ini secara tegas menolak ide untuk menyandingkan dua pembalap muda dalam satu atap. Baginya, strategi menumpuk dua talenta muda yang sama-sama haus kemenangan bukanlah langkah yang visioner, melainkan resep menuju kehancuran internal.

"Itu tidak ideal. Saya rasa (hal itu terlihat) jika Anda melihat kemitraan terbaik di masa lalu (dalam hal) bagaimana cara memenangkan kejuaraan, baik bagi tim maupun pembalap,” ucapnya mengutip siaran F1, Sabtu (10/1/2026).

Berbicara dalam podcast Pelas Pistas bersama talenta muda Brasil, Gabriel Bortoleto, Verstappen memberikan analisis tajam mengenai keberlanjutan sebuah tim menggunakan analogi sepak bola untuk memperkuat argumennya.

Meski ia adalah pendukung setia Barcelona, pembalap asal Belanda ini memberikan pujian setinggi langit kepada rival abadi tim kesayangannya, Real Madrid. Ia menilai manajemen skuat Los Blancos sebagai standar emas dalam transisi regenerasi.

Menurut Verstappen, Madrid sangat piawai dalam menjaga keseimbangan antara pemain veteran yang berada di puncak performa dengan talenta muda yang siap mengisi posisi tersebut saat sang senior mulai menurun.

Pola inilah yang seharusnya diterapkan di F1, seorang pembalap senior yang mapan berdampingan dengan anak muda berbakat yang siap menyerap ilmu. Ia mencontohkan duet Gabriel Bortoleto dan Nico Hulkenberg di Audi sebagai struktur yang sangat sehat.

"Bagi sebuah tim juga, menurut saya tekanan seperti itu tidak selalu diinginkan, dan ketika Anda memiliki pembalap dengan usia yang sama, sejujurnya bagi saya, Anda tahu siapa yang melakukan hal itu dengan sangat baik di sepak bola? Adalah [Real] Madrid,” ujarnya.

“Saya penggemar Barcelona, tetapi Madrid bekerja dengan sangat baik dalam menyusun skuat, mereka dapat memastikan bahwa begitu para pemain senior mencapai akhir karirnya, mereka segera menggantinya dengan talenta muda berbakat,” ungkap Verstappen.

“Jadi, itu yang menurut saya perlu coba di F1, di mana Anda memiliki satu pembalap senior yang berada di puncak performa atau mendekati akhir puncaknya, lalu Anda segera memiliki pembalap lain yang masuk untuk memastikan tim tidak mengalami kemunduran,” tegasnya.

Alasan utama Verstappen menghindari duet dua bintang muda adalah risiko keretakan internal. Ketika dua pembalap dengan usia dan ambisi yang sama bersaing memperebutkan status nomor satu, tekanan yang dihasilkan bisa menjadi racun bagi mekanik dan insinyur. 

Ketegangan ini seringkali melahirkan fenomena "garasi dua sisi", di mana tim terbelah menjadi dua kubu yang saling tidak percaya. Max memperingatkan bahwa konflik semacam ini tidak hanya akan mengusir pembalap, tetapi juga personil kunci di level atas manajemen.

Meskipun sebuah tim mungkin terlihat sukses di permukaan dalam satu atau dua tahun, pembalap berkebangsaan Belanda itu meyakini bahwa persaingan yang terlalu intens tidak akan berkelanjutan dalam jangka panjang.

Baginya, watak asli seseorang baru akan terlihat ketika mereka benar-benar bertarung memperebutkan posisi teratas, dalam hal ini adalah gelar juara dunia, dan risiko pecahnya tim terlalu besar untuk diambil.

"Mereka akan selalu mencoba untuk saling mengganggu satu sama lain. Meski tim tersebut sangat sukses saat ini, pada akhirnya itu akan menghancurkannya, dan saya pikir Anda akan melihat hal itu terjadi segera di F1 dengan skenario yang ada saat ini,” pungkasnya.

Max memang tidak menyebut nama secara spesifik, namun bayang-bayang perseteruan sengit Lewis Hamilton dan Nico Rosberg di Mercedes satu dekade lalu, atau ketegangan Lando Norris dan Oscar Piastri di McLaren, seolah menjadi latar belakang peringatannya.

Menurutnya, memiliki dua "Singa Alpha" dalam satu kandang hanya akan menciptakan bom waktu. Ia menegaskan bahwa tim yang terjebak dalam skenario dua pembalap muda yang setara hanya tinggal menunggu waktu sebelum struktur mereka retak dari dalam.