F1 2026: Rahasia Kolong Mobil Terungkap, Detail Diffuser Ferrari SF-26 yang Bikin Pusing Kompetitor

Senin, 26/01/2026 13:24 WIB | bagas
Ferrari SF-26 Tim Scuderia Ferrari F1 2026 (Foto: Ferrari)
Ferrari SF-26 Tim Scuderia Ferrari F1 2026 (Foto: Ferrari)

Mobilinanews (Italia) - Peluncuran Ferrari SF-26 di Fiorano tidak hanya menandai dimulainya babak baru bagi tim Scuderia, tetapi juga mengkonfirmasi arah desain radikal di bawah regulasi teknis terbaru Formula 1 (F1) 2026.

Meski setiap tim mencoba menerjemahkan aturan baru dengan cara berbeda, persaingan tajam mulai terlihat antara Ferrari SF-26, Mercedes W17, dan Alpine A526 yang melakukan shakedown hampir secara bersamaan di lokasi berbeda.

Melansir laporan resmi F1 pada Senin (26/1/2026), salah satu detail teknis yang paling mencuri perhatian para pengamat adalah munculnya lubang signifikan pada bodi bagian bawah di sekitar area diffuser, baik pada Ferrari maupun Mercedes.

Fitur ini merupakan evolusi dari konsep mouse hole yang populer sebelum era 2022. Pada periode 2022-2025, diffuser bekerja paling optimal jika tertutup rapat dari aliran udara eksternal guna memaksimalkan efek tanah.

Namun, karakteristik regulasi 2026 mengubah segalanya. Kini, lubang tersebut berfungsi seperti celah sayap (slot gap) yang mencegah aliran udara di tanjakan diffuser terlepas atau mengalami detachment. 

Dengan memasukkan aliran udara dari permukaan luar ke dinding dalam diffuser ini, tim tampaknya tengah berupaya untuk menjaga kecepatan aliran udara tetap tinggi demi menghasilkan downforce yang stabil.

Kebutuhan lubang ini muncul akibat penerapan floor boards baru di depan sidepod. Berbeda dengan barge boards era lama yang membuang udara kotor dari ban depan ke arah luar (out-wash), komponen baru ini diwajibkan oleh regulasi untuk mengarah ke dalam (in-wash).

Tujuannya adalah mempersempit jejak aerodinamika mobil demi memudahkan aksi salip-menyalip. Namun, bagi para insinyur, hal ini adalah mimpi buruk karena udara kotor dari ban justru diarahkan masuk ke kolong mobil dan memperlambat aliran udara diffuser. 

Ferrari merespons tantangan ini dengan struktur menara tepi depan yang kaku dan tiga bilah lateral untuk meminimalkan efek in-wash tersebut, sementara Mercedes memilih elemen yang lebih besar tanpa struktur menara.

Perbedaan filosofi juga terlihat jelas pada desain hidung mobil. Ferrari SF-26 tampil dengan hidung yang jauh lebih rendah dibandingkan Mercedes W17 yang lebih tinggi, dimungkinkan karena posisi kokpit mereka yang digeser lebih maju terhadap poros roda depan.

Hidung tinggi Mercedes memberikan ruang lebih besar bagi udara untuk mengalir menuju lantai mobil, sementara Ferrari tampak lebih konservatif dengan volume udara bawah lantai yang lebih terbatas.

Sektor suspensi menjadi medan tempur mekanis berikutnya. Ferrari akhirnya meninggalkan sistem pullrod dan beralih sepenuhnya ke pushrod baik di depan maupun belakang, mengikuti jejak Red Bull dan Mercedes.

Menariknya, Alpine A526 dan Cadillac tetap setia pada sistem pullrod depan, menunjukkan bahwa masih ada celah keuntungan aerodinamika yang diyakini oleh tim-tim tersebut melalui pusat gravitasi yang lebih rendah.

Di bagian belakang, hilangnya beam wing dalam regulasi terbaru membuat sistem pullrod kehilangan daya tarik aerodinamisnya, yang menjelaskan mengapa hampir seluruh grid, termasuk Ferrari, kini seragam beralih ke pushrod.

Meski Ferrari menegaskan bahwa mobil yang terlihat di Fiorano dan tes Barcelona bukanlah versi final yang akan membalap di Bahrain, fondasi utama seperti posisi kokpit dan poros roda sudah terkunci.

Pertempuran sesungguhnya kini bukan lagi tentang siapa yang paling cepat di lintasan lurus, melainkan siapa yang paling cerdik memanipulasi udara di tengah batasan regulasi yang semakin ketat.