mobilinanews (Australia) - Tahun lalu Lewis Hamilton jalani debutnya di Ferrari dengan penuh penderitaan. Pada tahun keduanya musim ini, bisa jadi sebaliknya ksrena ia datang dengan keyakinan dan semangat tinggi.
Pemegang 7 gelar F1 itu tiba di Melbourne sebagai kota penyelenggara GP Australia pekan ini dengan menyebarkan aura "kelahiran kembali" dengan penuh semangat.
Tahun lalu Hamilton tak kunjung bisa beradaptasi dengan SF25, bahkan gagal beradaptasi dengan budaya kerja di tim Ferrari. Dalam balapan tak pernah merasa nyaman dan selalu kalah lawan rekan satu timnya, Charles Leclerc. Saking tak nyamannya, pembalap Inggris itu acap tak sabar untuk menunggu kompetisi berakhir.
Sekarang, jelang kompetisi 2026, ia mengklaim bahwa versi buruk tahun lalu itu telah musnah semua. Semangatnya berlimpah berkat hasil tes pra musim 2026. Untuk pertama kalinya ia merasa nyaman di kokpit Ferrari, musim ini dengan label SF26. Ia tercepat dalam tes Barcelona, dan mampu bersaing di baris depan saat tes lanjutan di Bahrain.
Retorika pembalap Inggris itu di paddock GP Australia pada Kamis (5/6) sama sekali tidak menyebut target, apalagi soal peluangnya mencetak rekor sebagai pembalap pertama yang menotdehkan 8 gelar. Yang ia umbar hanyalah bukti pertumbuhan pribadinya dan sinergi tim. Ia tidak hanya berbicara tentang catatan waktu; ia berbicara tentang keselarasan spiritual dengan Scuderia Ferrari.
"Ini sangat berbeda dengan tahun pertama," ujar Hamilton kepada media F1i.
"Ini soal perasaan yang jauh lebih menyenangkan setelah menghabiskan satu tahun di tim untuk memahami budaya, memahami cara, dan kemudian menemukan cara untuk bekerja sama."
“Saya pikir kini kami sudah berada di tempat yang baik sebagai sebuah tim. Dan, saya merasa sangat menyatu dengan tim saat ini. Jauh lebih bahagia."
Itu sebuah perubahan sikap yang berani dari seorang pria yang tahun lalu menghabiskan sebagian besar musim dengan kekecewaan bahkan frustasi. Situasi dimana ia tampak seperti lebih suka berada di mana saja asalkan tidak di kokpit SF25.
Pada tes Bahrain lalu Ferrari menjadi tim yang layak diperhitungkan pada kompetisi tahun ini. SF26 dengan sejumlah terobosan teknisnya beri bukti teruji dengan daya tahan mesin melahap lap-lap panjang tanpa jeda, menciptakan catatan waktu rata-rata yang lebih baik dari tim lain.
Dan, dalam catatan waktu single lap pun duet Hamilton dan Leclerc konsisten di papan atas. Bahkan Leclerc tercepat pada sesi simulasi kualifikasi yang memberi gambaran betapa signifikan hasil pengembangan SF26 dibandingkan pendahulunya SF25.
Semua perubahan itu jadi wajar kalau Hamilton memasuki musim tahun ini dengan sangat bersemangat. Tapi, semangat saja tentu tak cukup untuk mengandaskan Leclerc dengan spek mobil yang sama. Juga tak cukup untuk meredam kecepatan rival dari tim Mercedes, McLaren dan Red Bull Racing.
Tetapi, dengan semangat yang dibawanya, penampilan Hamilton menjadi salah satu yang layak dinanti fans F1, dimulai dari sesi pembuka FP1 pada Jumat (6/8) ini. Apakah semangat itu sejalan dengan kecepatannya? (r)