Krisis BBM Dunia dan Meledaknya Tren Mobil Listrik di Indonesia: Saatnya Beralih?

Rabu, 18/03/2026 14:15 WIB | Ade Nugroho
 Mobil Listrik
Mobil Listrik

mobilinanews (Jakarta) – Tensi geopolitik global antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran kini berdampak langsung ke dompet masyarakat Indonesia. Lonjakan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang tidak terhindarkan memaksa konsumen dewasa untuk menghitung ulang biaya mobilitas mereka. Hasilnya? Terjadi migrasi besar-besaran dari kendaraan konvensional ke kendaraan listrik (EV) di awal tahun 2026 ini.

Ketua Umum Periklindo, Moeldoko, mengonfirmasi bahwa tren peralihan ini bukan sekadar fenomena sesaat. Dengan situasi harga minyak dunia yang tidak menentu, migrasi ke ekosistem listrik diprediksi akan semakin kuat, bahkan bisa mencapai dua kali lipat dari angka saat ini.

Berikut adalah ringkasan data yang menggambarkan pergeseran pasar otomotif nasional bagi Anda yang sedang mempertimbangkan untuk mengganti kendaraan:

1. Dominasi Mutlak BEV (Battery Electric Vehicle)

Konsumen Indonesia kini terlihat lebih percaya diri untuk meninggalkan bensin sepenuhnya. Penjualan mobil listrik murni (BEV) pada Januari 2026 menyentuh angka 10.211 unit. Ini merupakan lonjakan hampir empat kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

2. Pertumbuhan Eksplosif Segmen PHEV

Bagi mereka yang masih menginginkan fleksibilitas antara listrik dan bensin, Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV) menjadi pilihan menarik. Meski volumenya masih di angka ratusan unit (502 unit pada Januari 2026), pertumbuhannya mencapai 3.000%. Segmen ini didominasi oleh merek-merek seperti Chery (melalui Tiggo 8 CSH) dan Geely.

3. Pergeseran Selera: Dari Hybrid ke Listrik Murni

Ada perubahan perilaku konsumen yang cukup kontras. Jika tahun lalu mobil Hybrid (HEV) sangat mendominasi, tahun ini pangsa pasarnya turun drastis dari 61,9% menjadi hanya 28,1%. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat usia produktif kini lebih memilih lompatan teknologi ke arah listrik murni daripada sekadar solusi tanggung.
Lonjakan penjualan ini menjadi indikator bahwa infrastruktur pengisian daya dan kepercayaan masyarakat terhadap daya tahan baterai sudah jauh lebih matang. Di tengah melambungnya biaya hidup akibat harga BBM, efisiensi energi yang ditawarkan mobil listrik kini bukan lagi sekadar gaya hidup, melainkan kebutuhan ekonomi yang rasional.