Mobilinanews (Sachsenring) - Kursi balap di MotoGP semakin menipis, dan masa depan Alex Rins yang akan kehilangan kursi di tim pabrikan Monster Energy Yamaha pada akhir musim ini akhirnya tampak menemui titik terang, meski bukan di paddock Grand Prix.
Langkah radikal Yamaha yang memilih merombak total lini pembalapnya memaksa Rins mengalihkan bidikan ke ajang Superbike World Championship (WSBK/WorldSBK) untuk musim 2027 mendatang.
Rins, yang mengantongi enam kemenangan sepanjang karirnya di MotoGP, blak-blakan mengenai situasinya menjelang seri putaran ke-11 MotoGP 2026 yang berlangsung di Sirkuit Sachsenring, Jerman.
Pembalap berusia 30 tahun ini mengakui opsi bertahan di MotoGP sudah tertutup, dan kini fokus utamanya adalah mengamankan motor kompetitif di kejuaraan balap motor berbasis produksi massal tersebut.
Menyadari dinamika pasar pembalap MotoGP yang bergerak sangat cepat, Rins memilih realistis. Ia menegaskan prioritasnya saat ini adalah mengakhiri babak karirnya di MotoGP dengan kepala tegak, sembari sang manajer bergerilya mencari celah di WorldSBK.

Alex Rins #42 - Monster Energy Yamaha Factory Racing MotoGP (Foto: Yamaha)
“Sejujurnya tidak, saya tidak punya opsi apa pun di paddock ini (MotoGP) untuk tahun depan. Kami sedang mencoba mencari sesuatu di WorldSBK, tetapi saat ini saya belum memegang apapun,” ucap Rins mengutip siaran resmi WorldSBK, Sabtu (11/7/2026).
“Jadi, mari kita nikmati balapan-balapan terakhir ini. Kita lihat bagaimana kami menyelesaikannya, karena saya ingin menyudahi karier di paddock MotoGP ini dengan suasana hati yang baik dan hasil yang bagus,” tambahnya.
Beralih ke WorldSBK bukan berarti persaingan akan melunak. Pembalap asal Spanyol tersebut dipastikan harus berebut tempat dengan sesama alumni MotoGP yang juga terdepak musim ini.
Salah satu rumor paling panas di WorldSBK adalah potensi kosongnya kursi tim pabrikan Aruba.it Racing (Ducati), andai Nicolo Bulega memutuskan pindah ke MotoGP. Kursi Ducati Panigale V4 R jelas menjadi target utama karena statusnya sebagai motor juara bertahan.
Tantangan teknis terbesar bagi Rins adalah adaptasi. Karakteristik motor WorldSBK yang menggunakan sasis produksi massal jauh lebih fleksibel dibandingkan motor prototipe MotoGP yang kaku dan mengandalkan aerodinamika ekstrem.

Nicolo Bulega #11 - Aruba.it Racing (Ducati) WorldSBK (Foto: WorldSBK)
Rins tidak mematok target muluk-muluk seperti kontrak jangka panjang atau status tim pabrikan mutlak. Fokus utamanya murni pada aspek teknis: motor yang bisa membawanya kembali ke barisan depan.
“Tidak, kami hanya mencoba mencari motor yang bagus. Seperti yang saya katakan di GP sebelumnya, kami sangat kesulitan selama tiga tahun ini dan kami sedikit kehilangan momentum untuk bisa berada di barisan depan, apalagi finis di podium,” tuturnya.
Persaingan berburu kontrak di WorldSBK dipastikan akan sengit, mengingat Rins bukan satu-satunya pembalap top yang sedang menganggur. Eksodus pembalap MotoGP ke WorldSBK diprediksi akan membuat bursa transfer musim ini menjadi sangat padat.
“Tampaknya ada sekitar empat pembalap yang tidak mendapatkan kursi untuk tahun depan di MotoGP. Sudah pasti, besar kemungkinan mereka bergerak ke arah yang sama dengan saya dan manajer saya,” tuturnya.
“Sebagai pembalap, ketika Anda merasa masih kompetitif, yang tidak diinginkan adalah mundur dan mengakhiri karir begitu saja. Jadi, tentu saja, tempat ini, kursi Ducati ini, jika Bulega ke MotoGP, akan menjadi tempat yang sangat diperebutkan, bukan?,” tegas Rins.