Industri Motor Listrik Menggantung: Insentif Tak Kunjung Jelas, Konsumen Pilih Wait and See

Senin, 21/09/2026 14:15 WIB | Ade Nugroho
Motor Listrik
Motor Listrik

Mobilinanews (Jakarta) - Ketidak pastian soal insentif pembelian motor listrik dari pemerintah mulai bikin pelaku industri gerah. Hingga pertengahan September 2026, skema final, nilai insentif, hingga mekanisme pelaksanaannya masih belum ada kejelasan. Kondisi ini membuat industri berisiko jalan di tempat karena calon pembeli memilih menunda transaksi.

Waktu Makin Mepet, Efek `Wait and See` Mengintai

Public Relation & Event Executive Asosiasi Industri Sepeda Motor Listrik Indonesia (AISMOLI), Riniwaty Sinaga, menegaskan bahwa kepastian regulasi adalah hal paling krusial saat ini. Menurutnya, pelaksanaan program insentif butuh waktu untuk sosialisasi, penyiapan sistem administrasi, kesiapan diler, hingga proses settlement klaim di akhir tahun.

"Yang paling penting saat ini adalah adanya kepastian kebijakan. Pengumuman atau wacana insentif yang muncul lebih dahulu sementara teknisnya belum siap justru berpotensi membuat konsumen menunda pembelian," ujar Riniwaty, Senin (14/9/2026).

Wacana insentif tanpa kepastian teknis justru memicu efek wait and see. Kebijakan yang sejatinya ditujukan untuk menekan selisih harga antara motor listrik dan motor konvensional malah berisiko menahan laju transaksi pasar.

Tuntutan Kepastian dan Strategi Jangka Panjang

AISMOLI mendesak pemerintah untuk segera mengambil keputusan tegas: menentukan nilai anggaran dan target penerima, atau menyatakan secara terbuka jika program tersebut batal berjalan tahun ini. Kepastian ini dibutuhkan agar pabrikan dan diler bisa menentukan arah strategi bisnis tanpa terus menerus berada dalam ketidakpastian.

Di samping urusan subsidi pembelian, AISMOLI menekankan pentingnya intervensi pemerintah di sektor hulu untuk jangka panjang:

  • Penguatan Rantai Pasok: Mendukung efisiensi biaya produksi dan lokalisasi komponen domestik.

  • Kemandirian Harga: Membentuk harga pasar yang kompetitif dan terjangkau tanpa terus bergantung pada subsidi tahunan.

  • Dampak Makro: Mendorong peralihan energi untuk mengurangi beban subsidi BBM serta memperkuat industri nasional.

Tujuan akhirnya bukan sekadar mengejar angka penjualan, melainkan menjadikan motor listrik sebagai opsi kendaraan harian yang paling rasional secara ekonomi bagi masyarakat.