Pertarungan 2 Ego Pembalap Movistar Yamaha MotoGP

Selasa, 15/09/2015 15:54 WIB |

motorinanews (MotoGP) – Seri ke-13 MotoGP 2015 di sirkuit Misano, Minggu (13/9), hampir pasti adalah jenis balapan kelas dunia yang jarang kita saksikan. Bayangkan, di hari itu para pembalap dipaksa berganti motor dua kali dalam balapan yang berlangsung 28 lap, akibat faktor cuaca.

Ditambah lagi, balapan di hari itu adalah kelanjutan perang psikologis antara The Doctor Valentino Rossi versus rekan setim sekaligus kompetitor terberatnya Jorge Lorenzo. Pasalnya pada sesi kualifikasi, Sabtu (12/9), Valentino Rossi dikenai penalti 1 poin, karena dinilai oleh Race Director telah mengganggu race line Jorge Lorenzo.

Jika dilihat dari video di bawah ini, disengaja atau tidak aksi dari Valentino Rossi memperlambat motor menjelang tikungan jelas membahayakan, karena tepat di belakang Jorge Lorenzo tengah memacu motornya dalam kecepatan tinggi demi memecahkan rekor lap time. The Doctor pun dihukum penalti satu poin oleh Race Director.

 

Hari itu rupanya Sang Penguasa alam masuk di antara pertarungan keduanya. Menguji kemampuan dan nalar, serta kontrol ego dari duo pembalap Movistar Yamaha MotoGP. Lorenzo start di posisi terdepan, Rossi di P3, sementara Marc Marguez sang baby alien berada di antara bara keduanya di P2. Lampu sinyal merah pun padam, ketiganya memacu gas menuju tikungan pertama.

Tiba-tiba beberapa saat kemudian, “ujian” alam pun datang. Kondisi sirkuit yang diprediksi kering, tiba-tiba diguyur butiran-butiran air dari langit. Para pembalap pun dipaksa kembali ke paddock untuk bertukar motor, termasuk kedua pembalap Movistar Yamaha MotoGP.

Di sinilah ego mengalahkan nalar balap keduanya. Hujan itu tidak berguyur lama dan kondisi trek pun mulai mengering. Sekitar 2-3 lap sebelum insiden yang tidak diinginkan terjadi, tim dari Jorge Lorenzo telah memintanya untuk masuk pit dan berganti motor dengan ban slick lagi. Namun ego Lorenzo ternyata lebih besar, dia tetap memacu motornya, seakan ingin membuktikan jika dia tidak hanya jago di kala trek kering.

Kali ini Rossi dan Lorenzo sebenarnya tidak bersiteru, keduanya justru tengah berkolaborasi melawan alam dan ego. Pasalnya saat mereka berpacu dengan ban basah, sang komentator di layar kaca telah berseru, jika catatan lap time dari Loris Baz pembalap tim satelit Forward Racing sudah lebih cepat sekitar 9 detik dari keduanya.

Lorenzo terus memacu gas untuk mengejar ketinggalan 2 detik dari Rossi, sementara Rossi jelas hanya memperhitungkan rival setimnya tersebut. Beberapa kali nampak kupasan karet ban beterbangan dari motor keduanya. Marquez lebih dulu menyadari, kedua pembalap di depannya bertarung untuk sebuah ego. Maka sang baby alien memutuskan masuk lebih dulu mengganti motor.

Satu atau dua lap kemudian, akhirnya Lorenzo yang lebih dahulu masuk paddock mengganti motor. Lagi-lagi, ego Lorenzo lebih mengemuka. Ia memacu motornya Yamaha M1nya di saat ban belum panas dan menghasilkan grip yang baik. Petaka pun datang, ia terhempas ke gravel dengan keras, sekaligus membuyarkan harapannya memperkecil jarak 12 poin dengan Valentino Rossi.

Sang jagoan tuan rumah sendiri tidak bisa lantas bertepuk tangan. Benar, Rossi akhirnya memutuskan mengganti motor satu lap kemudian, dan tepatnya setelah Lorenzo terjatuh. Tapi juara dunia sembilan kali itu mungkin baru sadar dari “kaca mata kudanya”, bahkan pembalap yang sempat jatuh di lap awal Scott Redding ternyata ia lebih lambat.

Rossi pun akhirnya harus puas finish di posisi kelima, dan “hanya” berhasil menambah 11 poin. Ia memang unggul 23 poin dari Lorenzo, namun jarak poinnya dengan Marc Marquez pun jadi lebih pendek yaitu 63 poin dari 77 poin di seri sebelumnya.

Masih ada 5 seri tersisa dengan nilai maksimum 125 poin yang diperebutkan. Ini menjadi tantangan lebih bagi kedua pembalap Movistar Yamaha MotoGP, sangguhkah mereka mengedepankan nalar dan skill balap di atas egonya untuk menjatuhkan satu sama lain. Pasalnya jika pertarungan di antara keduanya terus berjalan tidak sehat di sisa seri, bisa jadi Marc Marquez yang tertawa di akhir musim.