mobilinanews

Amato Rudolph : Aku Akan Menang Balap Untuk Eyang...!

Jum'at, 09/11/2018 16:17 WIB
Amato Rudolph : Aku Akan Menang Balap Untuk Eyang...!
Amato Rudolph menjadi orang terakhir di pusara eyang putrinya di TPU Karet Tengsin, Jakarta. (foto : dok keluarga)

mobilinanews (Sentul) –Ada cerita mengharukan di balik kemenangan Amato Rudolph kelas Rookie Honda Brio Speed Challenge  seri 6 di Sentul International Circuit, Bogor, Minggu (4/11/2018).

Amato sempat mengiringi sakaratul maut eyangnya dengan kelimat-kalimat toyibbah. Amato adalah cucu kesayangan alm. Hj. Kusminah Tri Murti binti R.Kusmin  Gondohardjo  (85 tahun) yang telah berpulang pada Sabtu (3/11/2018) sekira pukul 22.00 WIB di ICU RS Pertamina.

“Dia tergesa pulang dari Sentul (setelah menyelesaikan QTT dan menjadi yang tercepat) ke Jakarta untuk mendampingi eyang putrinya di ICU segera setelah mendapat kabar eyangnya kritis. Eyangnya pun seperti menunggu kedatangan Amato,” tutur Vida, ibunda Amato kepada mobilinanews.

Satu jam setelah remaja 16 tahun itu datang, eyang pergi dengan sangat tenang. Eyangnya menghembuskan nafas terakhirnya di pelukan Amato.

Setelah mengiringi kepergian eyang, Amato berbisik di telinga almarhumah eyangnya. “Yang, aku pamit ya. Aku akan menang balap untuk eyang,” ujarnya dengan suara bergetar.

Duka putra tunggal Vida ini sangat mendalam. Kehilangan salah seorang yang terpenting dalam hidupnya dan yang sangat mencintainya.

Di saat semua orang sudah melangkah pulang dari pemakaman, dia kembali ke pusara opa dan eyangnya, sendiri berdialog tanpa suara, khusuk berdoa. 

Amato memang sangat dekat eyang putrinya. “Kebetulan rumah kami berdekatan dengan rumah eyang. Amato cucu ke-8 dari 12 cucu eyang,” cerita Vida.

Di saat semua sudah pulang, Amato kembali ke pusara eyangnya, sendiri

Eyang sangat memperhatikan Amato, mulai dari makanannya (karena Amato picky eater, pilih makan hanya yang disuka), urusan sekolahnya dengan memindahkan dari sekolah internasional ke sekolah islam karena ingin cucunya itu belajar agama dengan baik dan menjadi ustadz.

Sampai urusan balap mobil pun, eyang Murti sering memberi nasehat  dan arahan. Pesan paling Amato ingat adalah : Amato kalau balap harus ikut aturan dan pelan-pelan yaa...

Selama eyang sakit, Amato adalah cucu yang paling khawatir dan selalu siaga jika eyang sedang ngedrop. Dia juga senang membawa eyangnya jalan-jalan liburan.

“Kalau saya marahi, pasti Amato lari ke eyangnya. Ujung-ujungnya, saya yang dimarahi balik oleh eyang.” ungkap Vida yang bekerja di Indosat.

Amato sempat belajar bahasa Jawa Kromo Inggil dan nembang Jawa demi membuat eyangnya bangga.

Lebaran terakhir bersama eyang (tengah) dan mama 

Eyang juga andil dalam memberi nama Aufarahim. Lengkapnya, Muhammad Aqsha Aufarahim Amato Rudolph.

Soal lebih suka dipanggil Amato Rudolph, menurut Vida, karena itu nama pemberian papanya. Tadinya Amatus, tapi akhirnya diganti jadi Amato. Nama itu diambil dari bahasa Italia (Amare = mencintai). Sedangkan Amato artinya "yang dicintai".

Amato berdarah Jerman-Jawa-Gorontalo-Arab. “Jadi kampungnya banyak,” pungkas Vida. (budi santen)    

About Us | Our Team | Careers | Pedoman Siber | Disclaimer

© 2017 mobilinanews.com All Right Reserved
frodo