mobilinanews (Portugal) - Masih ada sisa pertarungan di MotoGP. Berebut 3 Besar di bawah Marquez Brothers yang sudah pastikan juara dan runner up 2025. P3 tak hanya soal prestise, tetapi juga soal bonus di akhir tahun.
Selain nilai kontrak, umumnya pembalap MotoGP juga mendapat bonus sesuai prestasi akhir di klasemen. Makin tinggi semakin besar. Terutama di Ducati yang terkenal 'pelit' dalam kontrak namun jor-joran membagi bonus.
Uniknya dua rider yang berebut posisi 3 Besar itu adalah pembalap Italia yang bersahabat akrab seperti layaknya saudara. Yakni Marco Bezzecchi (Aprilia) dan Francesco Bagnaia (Ducati). Keduanya satu perkumpulan dan permainan di kelompok VR46 milik Valentino Rossi.
Bezzecchi masuk Portugal dengan total poin 291 di peringkat 3. Dikuntit Bagnaia dengan nilai 286. Ya, hanya dipisahkan jarak 5 angka, membuat pertarungan kedua sahabat itu menjadi penentuan sampai akhir kompetisi di Valencia nanti.
Keduanya harus saling mengalahkan di Portugal untuk mengukur peluang di Valencia.
Dari penampilan rata-rata saat ini, Bezzecchi sedikit lebih diunggulkan. Dari 10 seri balap terakhir ia 6 kali naik podium di main race. Di sprint race GP San Marino, Indonesia dan Australia ia malah juara.
Di balapan utama Indonesia ia gagal meraih podium lantaran menubruk dan mengirim Marc Marquez (Ducati) ke gravel dan kemudian ke rumah sakit. Selanjutnya di Australia, ia pun gagal ke baris depan. Tak lain karena terkena hukuman double long lap penalty sebagai buntut dari kesalahannya menubruk Marquez di Indonesia.
Aprilia sendiri diprediksi sebagai lawan terkuat Ducati di Portugal. Selain tren positif Bezzecchi di paroh kedua kompetisi 2025, RS-GP juga diyakini cocok dengan karakter sirkuit Algarve di Portugal, yang konturnya naik turun di perbukitan yang langsung menghadap Samudra Atlantik.
Itu dibuktikan Aleix Espargaro dan Maverick Vinales saat masih membesut Aprilia. Masing-masing dengan podium di musim 2022 dan 2023. Tahun lalu Vinales pun nyaris menjadi runner-up lagi. Gagal hanya karena masalah girboks di lap terakhir.
Bezzecchi pun sudah mencicipi podium Portugal pada 2023 di atas Ducati dan tahun lalu finish P6.
Bagnaia sendiri, dalam 4 penampilan di Portugal meraih dua podium. P2 pada musim 2021 dan juara di kompetisi 2023.
Jika performanya normal maka sepertinya bakal sulit menaklukkan Bagnaia. Tapi, sialnya, sepanjang tahun ini ia tidak normal. Lebih banyak bermasalah dengan kendala teknis yang ia dan timnya tak kunjung dapat solusinya.
Terbaru di GP Malaysia, Bagnaia bermain normal pada sesi latihan, kualifikasi dan sprint race. Tapi, di balapan Minggu, ban belakang motornya mendadak bocor di saat memimpin balapan dan akhirnya keluar lintasan.
"Itu peristiwa yang harus dilupakan. Namun saya dan tim ingin membangun motor seperti di Malaysia untuk dapatkan perasaan yang sama. Itu penting di Algarve," kata Bagnaia.
Di sisi lain, seperti sebelumnya, Bezzecchi sama sekali tak menyinggung pertarungannya dengan sang sahabat. Namun, ia berambisi membawa Aprilia ke 3 Besar klasemen pembalap 2025.
"Itu sangat penting bagi Aprilia. Saya akan kerja keras dan mengerahkan segenap kemampuan untuk meraihnya, fight maksimal seperti biasanya," katanya.
Ya, memecah hegemoni Ducati sebagai sesama pabrikan Italia di 3 Besar akan jadi prestasi tersendiri Aprilia. Itu pula yang penuh gairah dikejar bos Aprilia.
"Saya yakin Marco bisa melakukannya. Motor kami sudah berkembang signifikan, dan apa yang dihasilkan tahun ini menjadi modal sangat penting ke musim tahun depan," komentar CEO Aprilia Massimo Rivola. (r)