CEO BYD Haka Auto Berbagi Perspektif di ITB, Elektrifikasi Solusi Kurangi Impor BBM

Senin, 27/04/2026 19:10 WIB
Wilfrid Kolo


CEO BYD Haka Auto Indonesia, Hariyadi Kaimuddin menerima piagam di Kampus ITB setelah berbagi perspektif terkait kendaraan listrik
CEO BYD Haka Auto Indonesia, Hariyadi Kaimuddin menerima piagam di Kampus ITB setelah berbagi perspektif terkait kendaraan listrik

mobilinanews (Bandung) - Kendaraan listrik perlahan namun pasti menjadi pilihan masyarakat yang peduli dengan lingkungan. Perkembangan ini dipengaruhi oleh penerimaan yang baik dari masyarakat global yang secara langsung mempengaruhi ekonomi.

CEO BYD Haka Auto Indonesia, Hariyadi Kaimuddin, menegaskan bahwa kendaraan listrik (electric vehicle/EV) memiliki peran strategis dalam mendorong kemandirian energi nasional, pertumbuhan ekonomi, serta pengurangan emisi karbon. 

Hal di atas disampaikan dalam Studium Generale di Institut Teknologi Bandung (ITB) yang dihadiri lebih dari 1.000 mahasiswa secara luring dan daring, untuk mendapatkan informasi terkait perkembangan kendaraan listrik.

Dalam pemaparannya, Hariyadi Kaimuddin menjelaskan bahwa kendaraan listrik berada pada titik pertemuan tiga agenda besar Indonesia, yaitu kemandirian energi, pertumbuhan ekonomi, dan keberlanjutan lingkungan. 

“EV bukan hanya solusi transportasi, tetapi bagian dari strategi nasional untuk memperkuat ketahanan energi dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” ujar Hariyadi Kaimuddin di Bandung.

Dorong Kemandirian Energi 

Hariyadi menyoroti bahwa sektor transportasi masih menjadi salah satu penyumbang terbesar konsumsi bahan bakar fosil di Indonesia. Tanpa transformasi menuju elektrifikasi, kebutuhan energi berbasis impor diproyeksikan terus meningkat seiring pertumbuhan jumlah kendaraan. 

Ia menekankan bahwa kendaraan listrik memungkinkan pemanfaatan energi domestik secara lebih optimal. Dalam kondisi saat ini, sistem kelistrikan nasional masih ditopang oleh berbagai sumber energi, termasuk energi fosil seperti batu bara yang masih dominan.

Meskipun demikian, ke depan pemanfaatan energi listrik terbarukan yang bersumber dari energi domestik—seperti tenaga air, panas bumi, dan surya—dapat memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar minyak.

 “Jika kita beralih ke listrik berbasis energi domestik, ketahanan energi Indonesia akan jauh lebih kuat,” jelasnya.  

Selain aspek energi, pengembangan kendaraan listrik juga dinilai memiliki dampak signifikan terhadap perekonomian nasional. Industri otomotif berkontribusi besar terhadap PDB, ekspor, dan penyerapan tenaga kerja, sehingga transformasi menuju EV berpotensi memperkuat struktur industri nasional. 

Menurutnya, percepatan ekosistem ini harus didukung oleh kolaborasi erat antara pemerintah, pelaku industri, dan institusi pendidikan guna menciptakan sistem yang berkelanjutan dan berdaya saing global.

Dalam kesempatan tersebut, Hariyadi juga mengajak mahasiswa untuk tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi turut berperan aktif dalam pengembangan solusi inovatif di sektor energi dan kendaraan listrik.

“Kita tidak bisa hanya menunggu perubahan, tetapi harus menjadi bagian dari perubahan itu sendiri,” tegasnya. 

Ia menambahkan bahwa pengembangan industri EV membutuhkan dukungan sumber daya manusia yang kompeten, khususnya di bidang teknologi, energi terbarukan, dan inovasi industri. 

Sebagai bagian dari industri kendaraan listrik, BYD bersama Haka Auto berkomitmen untuk terus mendukung percepatan adopsi EV di Indonesia melalui pengembangan jaringan, layanan, serta edukasi kepada masyarakat.

Tag

Terpopuler

Terkini