Seru-Seruan Mengenang Targa Tasmania Bersama Konglomerat Maher Algadri

Selasa, 28/07/2026 22:36 WIB
Rulin purba


Maher Algadri (kiri) bersama Rio Sarwono dan mobilinanews.com dalam.bincang santai di Balai Sarwono Jakarta.
Maher Algadri (kiri) bersama Rio Sarwono dan mobilinanews.com dalam.bincang santai di Balai Sarwono Jakarta.

mobilinanews (Jakarta) - Maher Algadri bukan sosok asing di kancah otomotif Indonesia. Ia juga dikenal sebagai konglomerat papan atas sejak zaman Orde Baru, dan dikenal pula sebagai sahabat karibnya Presiden Prabowo sejak kecil.

Kini berusia 80 tahun tentu saja ia tak lagi segagah masa mudanya yang tinggi besar, btewokan dan pastinya tampak gagah. Tapi, satu yang tidak berubah, yakni energinya untuk berdiskusi berbagai topik. Salah satu tokoh dari grup Kongsi Delapan (Kodel Grup), kelompok pengusaha besar Indonesia,  ini masih tampak lancar dan fasih membahas berbagai perkembangan bisnis, politik dan kehidupan sosial di Indonesia saat ini. Banyak perspektif menarik yang ia paparkan.

"Gua bersyukur pada usia saat ini dan gua sangat bersyukur lahir sebagai orang Indonesia," tuturnya dengan gaya bicara tetap sebagai anak muda dengan membandingkan kehidupan sosial di negeri ini dengan  yang ia jalani di banyak.negara.

Tentu saja semangat putra pejuang revolusi Hamid Algadri itu seperti meledak-ledak saat bicara soal hobi beratnya pada balapan. Ia sudah mengikuti berbagai ajang balap gokart, balap one make race yang antara lain menggeber Ferrari yang menjadi race supporting event F1, dan tentu saja ajang rally mobil yang paling ia sukai. Dalam usia saat ini, beberapa waktu lalu Maher malah tampil mencoba trek Cikembar, Sukabumi, yang menggelar event kejurnas sprint rally. Dengan kondisi bahu dan kaki yang belum sepenuhnya fit usai sakit.

"Hanya mencoba trek, ngga ikut kompetisi. Tapi puas karena mobil diset-up cakep banget," ucap.Maher yang menggeber Evo-X, mobil pacu yang melambungkan status Mitsubishi di ajang reli mobil nasional, regional dan dunia pada masamya.

"Mekaniknya jago. Sempat jumping sekitar 4 meter tapi landing-nya empuk dan stabil," imbuhnya saat bincang santai dengan mobilinanews yang juga ditemani legenda reli Indonesia lainnya, Rio Sarwono.

Bincang santai namun seru itu hampir selesai dan siap-siap.meninggalkan teras Balai Sarwono di Kemang, Jaksel, yang sudah berlangsung 2 jam lebih. Tapi, ia tetap duduk dan malah makin bergairah saat ditanya event balap yang paling mengesankan dalam sejarah panjangnya di dunia motorsport.

Ia dengan cepat dan tegas meyebut ajang reli ikonik di Australia, Rally Targa Tasmania. Ini seri regular Kejurnas Australia tetapi diminati banyak perally mancanegara. Event ini sudah dihelat rutin sejak tahun 1964. Dua pereli top Selandia Baru, Possum Bourne dan Hayden Paddon, misalnya, justru dari rally ini kemudian  berkembang ke serial dunia,  WRC. 

"Pesertanya membludak, ratusan. Bisa finish 50 Besar saja sudah hebat. Treķ semuanya aspal, meliuk di tengah pegunungan dengan pemandangan indah. Banyak jurang," imbuh Maher yang ikut serta sebagai kompetitor di sana sebanyak 4 kali. Dua kali dengan hasil biasa saja dan dua kali dengan posisi bikin puas, P10 dan P11.

Tapi, lanjutnya  ia bisa meraih posisi itu tak.lain karena dibantu seorang mavigator wanita yang direkomendasikan pemilik mobil sewa Audi  RS3 di kota Perth.

"Namanya Doris, lupa nama lengkapnya. Ia sudah hafal.pacenote (panduan rute), tapi semuanya dikonsultasikan dengan driver. Ia juga paham setingan mobil. Namun yang istimewa adalah ketegasannya."

Doris sejak awal start menuntut Maher harus menurut pada panduan yang diberikan. Jika tidak.maka sang navigator saat itu juga mengundurkan diri. 

"Ada kasus saat gua rada bandel. Pada sebuah trek lurus sepanjang 1.700 meter, ia diam saja..Audi RS3 melaju dengan kecepatan 260 kpj. Baru pada 600 meter jelang tikungan ia teriak untuk pindah speed dari gigi 6 ke 4."

Maher tak menurut karena merasà masih jauh tikungannya. Doris langsung teriak akan berhenti dan pulang. Setelah masuk dan keluar tikungan itu Maher baru menyadari resiko jika tidak menuruti perintah navigatornya.

"Jadi kalau ditanya paling berkesan ya kelakuan Doris itulah. Sangat profesional, paham dan bertanggung jawab dengan tugasnya. Tentu saja bukan hanya soal akhir di garis finish tetapi juga nyawa karena kecelakaan di Targa Tasmania itu banyak sekali yang fatal."

Dengan kata lain pengalaman sang senior ini bisa jadi inspirasi bagi para pilot dan co-pilot perally muda Indonesia. Bahwa dua manusia di dalam kokpit mobil itu berada dalam satu nyawa saat masuk area Special Stage (SS). Tak ada peran yang lebih penting dari satunya. Sama dan seirama sejak masa persiapan. (r)

 

 

 

Tag

Terpopuler

Terkini