mobilinanews (Jakarta) - Bukan rahasia lagi kalau industri otomotif global lagi bergejolak, dan kabar terbaru dari dapur Volkswagen (VW) Group sukses bikin para pencinta roda dua sekaligus pengamat bisnis menaikkan alis. Rumor lama kembali memanas: Ducati, merek motor ikonis asal Bologna, Italia, disebut-sebut masuk dalam radar aset yang berpotensi dilepas oleh raksasa Jerman tersebut.
Spekulasi ini mencuat setelah laporan dari Financial Times mengindikasikan bahwa VW Group tengah menimbang-nimbang untuk menjual beberapa brand paling bernilai demi memperkuat posisi keuangan mereka.
Meskipun belum ada keputusan final, Ducati lagi-lagi jadi nama yang paling santer disebut bakal memicu "perang penawaran" sengit jika VW benar-benar butuh suntikan modal segar.
Rumor ini nggak muncul dari ruang hampa. Sentimen pasar mulai berubah setelah VW sukses merampungkan penjualan Everllence, lini bisnis mesin kapal mereka, dengan nilai fantastis mencapai sekitar NZ$19,5 miliar (sekitar Rp180-an triliun).
Ditambah dengan langkah mereka sebelumnya yang sudah melepas Bugatti, serta rencana restrukturisasi agresif dari CEO Oliver Blume—termasuk pangkas jumlah karyawan global—suksesnya transaksi Everllence ini bikin investor berspekulasi: “Siapa lagi nih yang mau dijual?”
Menurut para penasihat keuangan yang dikutip Financial Times, tingginya minat investor pada Everllence bisa menular ke deretan merek "crown jewel" (permata mahkota) milik VW, dan Ducati ada di daftar teratas. Sebagai catatan, rencana melego Ducati sebenarnya sempat dijajaki pada 2017 silam, bersamaan dengan wacana melantai-bursa (IPO) bagi Lamborghini.
Di bawah payung VW Group, Ducati bersanding dengan nama-nama elite seperti Porsche, Lamborghini, Audi, dan Bentley. Meski skala bisnisnya jauh lebih kecil dibanding divisi mobil, Ducati punya tiga senjata maut yang bikin investor ngiler:
Konsisten Cetak Cuan: Ducati adalah salah satu merek premium yang paling stabil profitnya di dalam grup.
Reputasi Balap: Dominasi mereka di MotoGP dan WorldSBK memperkuat nilai brand di mata global.
Status Cult: Loyalitas konsumennya sangat tinggi, menjadikannya aset premium murni.
Kalau melihat tren industri, pasar motor premium memang lagi seksi-seksinya bagi para investor. Lihat saja kasus KTM yang direstrukturisasi hingga akhirnya Bajaj mengambil alih kendali, atau beberapa merek warisan (heritage) lain yang berpindah tangan. Namun, Ducati berada di kasta yang berbeda. Kombinasi performa finansial, teknologi, dan branding mewahnya membuat Ducati dinilai sebagai salah satu produsen motor paling bernilai di dunia saat ini.
Sisi Lain Koin: Jual Ducati belum tentu jadi keputusan bijak.
Beberapa analis justru skeptis VW bakal melepas Ducati. Logikanya, VW lebih butuh membenahi atau menjual lini bisnis yang performanya loyo ketimbang membuang "mesin uang" yang sehat.
Aset seperti PowerCo (divisi baterai VW) justru dinilai lebih butuh restrukturisasi dan perhatian medis, sementara menjual Ducati sama saja dengan memotong salah satu sumber profit premium terkuat mereka saat ini.
Jika pada akhirnya VW tergiur dan mengetuk palu penjualan, angka yang keluar diprediksi bakal masif. Mengingat Everllence saja laku NZ$19,5 miliar, maka nilai sejarah, teknologi, dan ekuitas merek Ducati bisa melambungkan valuasinya ke angka yang sulit ditebak saat ini.
Untuk saat ini, posisi Ducati di bawah VW Group masih aman dan belum ada pengumuman resmi bahwa mereka masuk daftar jual. Namun di era di mana raksasa otomotif harus terus beradaptasi dengan transisi energi dan tekanan investor, rumor ini dipastikan nggak akan redup dalam waktu dekat.
Bagi kita yang berusia 20-an atau 30-an yang mengagumi Ducati sebagai simbol status dan kecepatan, dinamika ruang rapat di Jerman ini bakal sangat menentukan logo apa yang akan menempel di tangki Panigale atau Multistrada favorit kita di masa depan.