mobilinanews (Malaysia) - Isu team order maaih kencang beredar di paddock balap MotoGP. Isu yang semakin menarik usai Marquez Bersaudara, Alex dan Marc, menempati posisi start 1 dan 2 untuk sprint dan main race GP Malaysia.
Alex (Gresini Ducati) dan Marquez (Ducati) sukses finish 1-2 pada sesi Q2 GP Malaysia, Sabtu (31/11). Rival terdekatnya Pedro Acosta (KTM) di posisi ketiga.
Sebagai pemegang pole position tentu terbuka peluang Alex memenangkan dua sesi balap itu.. Tapi, untuk lebih melapangkan jalan bangbya meraih gelar juara dunia sebelum seri pamungkas di Valencia, maka sangat penting jika Marquez sukses meraih total poin 37 di Sepang dari kemenangan ganda pada sprint dan balap utama.
Sebelumnya Alex bilang tak akan membantu Marquez sepanjang dirinya berpeluang meraih kemenangan. Apalagi sampai saat ini tak ada perintah semacam itu dari Ducati. Perlu ditambahkan kalau meski gabung dalam tim Gresini namun kontrak Alex sepenuhnya ditangani pabrikan Ducati.
"Sampai saat ini Marc tidak membutuhkan bantuan. Ia bisa atasi situasi. Jika saya bisa menang maka itu yang saya perjuangkan untuk diri saya sendiri dan tim," tegas Alex yang musim depan pindah ke tim pabrikan KTM.
Kata-kata itu akan diuji pada sesi sprint race siang ini pukul 14.00 WIB dan berikutnya diuji lagi pada balap utama Minggu (1/11).
Si Abang Marquez sendiri secara tersirat menyebut team order atau dengan kata lain saling membantu sudah lazim terjadi di antara mereka. Mereka saling memahami satu sama lain.
"Kami bersaudara. Kami tahu apa yang masing-masing harus lakukan tanpa harus berkata-kata," jawab Marquez saat sudah mulai merasa bosan ditanya media soal team order.
Benar, tanpa bantuan Alex pun, Marquez sudah meraih keuntungan besar di GP Malaysia ini setelah Jorge Martin memutuskan tidak melanjutkan balapan usai tampil di sesi FP2 dan Q1.
Tapi, bukan tak ada ancaman buat Marquez. Dua rider Aprilia, AI Ogura (Trackhouse Aprilia) dan Marco Bezzecchi (Aprilia) bisa saja mendadak jadi ancaman dari posisi start baris kedua.
Ancaman lain yang lebih serius datang dari Pedro Acosta. Speed-nya dalam single lap maupun race pace terbilang tipis dengan Dua Msrquez.
Dan, sejak awal Acosta bilang tak peduli dengan kepentingan Marquez yang tahun depan menjadi teman satu timnya di skuad pabrikan Ducati.
"Saya tak punya teman di balapan ini. Begitu di atas motor, semuanya adalah lawan," tegas Acosta saat memprediksi masa depannya di Ducati.
Buat Acosta, jika motornya punya peluang menang maka ia akan mati-matian memperjuangkannya. Karena, katanya hanya kemenangan yang bisa ia jadikan sebagai rasa terima kasih kepada KTM yeng telah membinanya sejak yunior.
"Kemenangan adalah kado perpisahan terbaik kepada seluruh awak tim Red Bull KTM," tandas Acosta yang sudah menyumbang banyak trofi kelas Moto3 dan Moto2 tetapi baru sekali meraih kemenangan buat timnya di ajang kelas primer.
Satu lagi yang serius adalah tekad Acosta untuk selalu ingin mengalahkan Marquez, terlebih tahun ini. Dan, peluang itu terbuka di Sirkuit Sepang pada hari ini dan besok.
Kemampuan mengalahkan Marquez dalam situasi normal sangat penting sebagai bekal kepercayaan diri Acosta kala menjadi rekan setim Marquez tahun depan, sekaligus bekal untuk menekan Ducati memperlakukannya sama dengan Marquez Bukan anak tiri.
Kepentingan lain Acosta adalah mempertahankan posisi P4 klasemen dari pemburuan AI Ogura dan Fabio Di Giannantonio. Keduanya juga mengincar posisi sama. Saat ini Aocosta dan Ogura punya poin sama, 263. Sementara Diggia mengincar dari posisi poin 262. Seru nih, pertarungan tersendiri.
Kembali ke Alex. Mari kita lihat, apakah ia akan fight memburu kemenangan (penting untuk Gresini dan sponsornya) atau menjadi `penjaga` setia untuk kepentingan abangnya?
Momen saat sprint race GP Australia bisa jadi penilaian untuk hal tersebut. Saat itu Marquez dan Martin duel gaspol dan saling menyalip berulangkali. Alex saat berada di belakang Martin langsung memberi tekanan keras dan sempat menyaip dan tampak sedikit melambatkan kecepatan untuk bikin tuang menjauh kepada Marqez di depan, tetapi Martin langsung menyalip balik.
Puncaknya saat Martin kecelakaan dan retire dì lap ke-8, permainan Alex langsung berubah. Hanya menempal di belakang abangnya tanpa terlihat sedikit pun upaya untuk menyalip.
"Saya tak ingin ambil resiko dengan menyalip Marc," tegasnya usai balapan.
Tentu saja resiko yang dimaksud adalah untuk Marquez. Dan, sepertinya, skenario macam itu bisa terulang di Sepang jika Aprilia dan Acosta benar-bensr bisa jadi ancaman. Seperti kata Marquez, tak perlu lewat kata-ksta.
Yuk, kita tunggu?