mobilinanews.com (Jakarta) - Dari segi etika, ML (making love ) di mobil tentu sebuah pelanggaran dan penyimpangan. Pertama, mobil tentu bukanlah tempat yang lazim, karena memang tempat khusus untuk ML di mobil tidak akan pernah ada.
Kedua, dari sudut perilaku, walaupun itu adalah pasutri resmi apalagi kalau bukan, ML di mobil bukanlah perilaku seksual yang normatif, etis dan moralis. Bahkan bisa dipandang sebagai perilaku yang melanggar hukum untuk beberapa kasus.
Betul bahwa masalah seksual itu adalah hak pribadi dan kerahasiaan pribadi. Tapi kalau sampai dilakukan di tempat umum itu sama saja dengan tidak menghormati hak pribadinya sendiri, martabatnya sendiri dan pastinya kehormatannya sendiri.
Perilaku ataupun trend ML di mobil menunjukkan ada erosi pada empati sosialnya (para pelaku), sehingga mereka tidak lagi memiliki keterikatan atau interaksi dengan nilai-nilai yang berlaku di lingkungan sosial.
Apakah ini masalah? Tentu tidak bagi para pelaku, karena mereka akan menganggap bahwa itu adalah hak dan pilihan yang hakiki. Namun karena kita hidup di tataran kehidupan sosial, maka kita harus berkompromi dengan nilai-nilai sosial yang berlaku, karena kita menjadi bagian dari sistem nilai tersebut. Bukan malah terlempar keluar dan teralienasi.
Bagi mereka? Hal ini tetap merupakan pilihan yang harus dihormati, dengan segala konsekuensi dan resikonya. Sekedar catatan, apakah memang sudah sebegitu mendominasinya aspek pilihan keputusan terhadap aspek etika dan nilai sosial yang berlaku umum? Atau terhadap aspek kepanutanan? Atau terhadap aspek kebajikan?
Semoga para penganut etika dan kebajikan masih jauh lebih banyak dibanding dengan yang bukan. Siapapun dia, status, suku, etnis, agama, kepercayaan, jenis kelamin dan pekerjaan apapun dia. Dan suatu hari akan terjadi sebaliknya, dimana aspek etika dan kebajikan akan menjadi pintu gerbang utama sebelum seseorang membuat keputusan eksekutif apapun bagi dirinya sendiri.
Untuk siapa? Tentu untuk dirinya sendiri terlebih dahulu, baru untuk orang lain kemudian...