mobilinanews (Italia) - Sejak tahun lalu FIM menambah distribusi poin di kancah MotoGP. Format lama tetap berlaku, 15 pembalap tercepat dapat 25 poin sampai 1. Lantas ditambah dengan sesi sprint race dengan hadiah 12 sampai 1 angka untuk 9 pembalap terdepan.
Tapi, rupanya masih kurang buat pembalap pabrikan Ducati, Francesco Bagnaia. Juara dunia 2022 dan 2023 itu mengusulkan untuk memberikan ekstra poin untuk pembalap tercepat saat race (fatest lap) atau bisa juga bonus poin untuk pembalap yang cetak double winner (juara di sprint dan main race).
"Itu perlu untuk mengapreasi pembalap terkencang," kata anak didik Valentino Rossi itu dikutip dari gpone.
Usulan Bagnaia belum dapat tanggapan pihak terkait sampai saat ini. Tapi, usulan itu jelas menarik. Tak lain karena bonus poin itu dipastikan jadi daya tarik tersendiri para pembalap papan atas, terutama yang tengah bersaing ketat dalam perburuan poin di klasemen kejuaraan.
Tentu saja buat penonton juga jadi hiburan tambahan, terutama bagi mereka yang suka utak-atik klasemen dan prediksi seri berikutnya.
Serial balap F1 sudah lama memberlakukan bonus poin bagi pembalap yang torehkan lap terbaik atau fastest lap. Untuk perjuangkan bonus 1 poin ini acap terjadi tim dan pembalap mengubah taktik saat balapan.
Max Verstappen, misalnya, pernah lakukan ekstra pit untuk meraih 1 poin ekstra itu. Terbaru di GP AS lalu, pembalap tim RB Daniel Ricciardo diperintahkan petinggi Red Bull racing untuk masuk pit mengganti ban baru. Tujuannya untuk mengambil alih bonus poin yang saat itu sudah milik Lando Norris (McLaren) yang menjadi saingan terdekat Verstappen dalam perburuan gelar.
Di kancah balap dunia lainnya, FIA-World Rally Championship atau WRC juga ada bagi-bagi bonus point dalam sebuah power stage yang biasanya menjadi ajang hiburan buat penonton.
Perally yang finish 5 Besar di stage itu mendapat tambahan 5, 4, 3, 2 dan 1 poin. Karenanya para pembalap yang bersaing dalam kejuaraan biasanya menempatkan power stage menjadi target tersendiri.
Bonus poin itu memang kecil dibandingkan poin regular di balap utama. Tapi, jika konsisten diraih maka acap terjadi justru jadi penentu peringkat akhir masing-masing pembalap di klasemen kejuaraan.
"Konsistensi itu juga sangat menarik dan tantangan khusus buat pembalap," imbuh Bagnaia.
Tahun ini ia kalah 10 poin dari Jorge Martin dalam perebutan gelar juara dunia meski memenangkan 11 dari 20 balapan utama. Yang membuatnya kalah, katanya, karena Martin lebih konsisten dalam perolehan poin sementara ia sendiri tercatat 5 kali DNF alias keluar gelanggang tanpa poin.
Semoga usulan Bagnaia bisa terwujud, entah tahun depan atau pada musim 2027 nanti saat banyak regulasi MotoGP berubah. (rn)