Mobilinanews.com (Jakarta) - Industri otomotif Indonesia sedang memasuki babak baru dengan kehadiran agresif mobil hybrid dari pabrikan China. Merek-merek seperti Chery, GWM, Jaecoo, hingga Aion semakin gencar menghadirkan kendaraan hybrid electric vehicle (HEV) dan plug-in hybrid electric vehicle (PHEV) untuk menyaingi dominasi Jepang yang selama ini menguasai segmen tersebut.
Langkah besar diambil oleh Chery melalui PT Chery Sales Indonesia yang berencana merakit lokal model Chery Tiggo 8 PHEV, yang dikenal sebagai Chery Super Hybrid (CSH). Produksi lokal ini dilakukan di fasilitas PT Handal Indonesia Motor (HIM) di Bekasi, Jawa Barat, sejalan dengan kebijakan insentif PPnBM 3% untuk kendaraan hybrid yang tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 12 Tahun 2025.
Tak hanya Chery, Aion juga memperkuat kehadirannya dengan rencana peluncuran berbagai model hybrid di Indonesia. Pada ajang Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2025 mendatang, Aion akan membawa tambahan merek baru, yaitu GAC Motor, untuk bersanding dengan Aion dan Hyptec di bawah naungan Indomobil Group.
Sementara itu, Morris Garage (MG), yang berada di bawah grup SAIC China, telah mengumumkan produksi model hybrid di pabrik mereka di Cikarang. BYD Motor Indonesia pun tak mau ketinggalan dengan rencana membawa model PHEV ke Tanah Air, yang kemungkinan besar akan dirakit di pabrik mereka di Subang Smartpolitan, Jawa Barat.
Sejumlah model hybrid China yang sudah mengaspal di Indonesia di antaranya adalah GWM Tank 300 HEV, Tank 500 HEV, Haval Jolion HEV, dan Haval H6 HEV. Jaecoo juga turut meramaikan pasar dengan model PHEV andalannya, Jaecoo J7 SHS.
Meskipun strategi produksi lokal dan harga kompetitif menjadi senjata utama pabrikan China, mereka tetap harus menghadapi dominasi produsen Jepang yang telah lebih dulu menguasai pasar hybrid di Indonesia. Merek seperti Toyota dan Suzuki memiliki keunggulan dari segi reputasi, jaringan purna jual yang luas, serta loyalitas konsumen yang tinggi.
Toyota, misalnya, masih mendominasi segmen hybrid dengan model andalannya, Innova Zenix Hybrid, yang mencatat penjualan sebanyak 1.982 unit pada Februari 2025, meningkat 4,64% dibanding bulan sebelumnya. Suzuki XL7 Hybrid menyusul dengan 807 unit, sementara Toyota Yaris Cross Hybrid menempati peringkat ketiga dengan penjualan 352 unit, meningkat 55% secara bulanan.
Menurut Pakar Otomotif dan Akademisi ITB, Yannes Martinus Pasaribu, insentif PPnBM 3% untuk kendaraan hybrid akan memperketat persaingan antara merek China dan Jepang. "Produsen China menawarkan harga lebih rendah berkat produksi lokal, sementara produsen Jepang mengandalkan reputasi kualitas. Konsumen diuntungkan dengan lebih banyak pilihan dan harga yang semakin kompetitif," ujar Yannes.
Namun, ia juga menegaskan bahwa keberhasilan merek China di pasar hybrid Indonesia akan sangat bergantung pada kemampuan mereka dalam menyamai standar kualitas dan keandalan merek Jepang. Di sisi lain, produsen Jepang perlu berinovasi dan menekan biaya produksi tanpa mengorbankan mutu agar tetap kompetitif.
Pasar mobil hybrid di Indonesia kini memasuki fase yang lebih kompetitif. Merek-merek China datang dengan strategi agresif: harga lebih murah dan produksi lokal untuk menekan biaya. Sementara itu, merek Jepang masih di posisi dominan dengan reputasi dan kepercayaan yang sudah terbangun lama di pasar.
Bagi konsumen, persaingan ini adalah kabar baik. Pilihan mobil hybrid semakin banyak, dengan berbagai fitur canggih dan harga yang lebih kompetitif. Kini, tinggal bagaimana masing-masing pabrikan mampu membuktikan keunggulan mereka di mata pengguna Indonesia.
Siapakah yang akan memenangkan pertarungan di segmen hybrid ini? Apakah produsen China akan berhasil menggeser dominasi Jepang, atau justru sebaliknya? Kita tunggu babak selanjutnya dari persaingan menarik ini!