mobilinanews (Amerika Serikat) - Baru dua seri balapan tahun ini, Francesco 'Pecco' Bagnaia sudah seperti pembalap nomor 2 di tim pabrikan Lenovo Ducati. Dari tadinya raja, kini menjadi pangeran. Raja baru adalah Marc Marquez.
Menuju seri ketiga musim 2025, GP AS di Austin akhir pekan ini, Pecco sama sekali bukan pembalap unggulan menjadi juara. Meski dua kali menjadi juara dunia MotoGP (2022 dan 2023) ia tak pernah juara di sana. Prestasi terbaiknya hanyalah menjadi juara sprint race 2023.
Sebaliknya dengan Marquez yang menjadi koboi tersukses di negeri Texas itu dengan 7 kemenangan. Enam diantaranya beruntun pada 2013 hingga 2018. Satu gelar lainnya pada 2021.
Tekanan mental jelas menghinggapi Pecco. Ia seperti bukan anak emas Ducati lagi. Ambisinya meraih gelar tahun ini pun dianggap berat karena Marquez sudah membuktikan diri sangat kompetitif di atas Desmosedici GP25. Beda dengan Bagnaia yang belum menemukan kenyamanan di atas motor barunya. Dari 4 race awal tahun ini (sprint dan main race), semuanya dimenangkan Marquez. Dan di GP AS pada Minggu (30/3) nanti diprediksi ia akan meraih gelar juara kali pertama di Austin bersama Ducati.
Bagnaia sadar situasinya sangat sulit. Tapi, ia mengambil langkah terbaik dengan bersikap tenang saja. Tak ingin terpengaruh situasi dan mengambil resiko dengan bernafsu segera mengalahkan Marquez.
"Dalam situasi seperti saat ini lebih baik bersikap tenang. Itu pelajaran yang saya petik dari awal musim tahun lalu. Sembari mencoba terus meraih kenyamanan dan keseimbangan di atas motor," katanya.
Sebuah fakta yang membuatnya bisa bersikap tenang adalah performanya yang memang selalu tak maksimal di awal musim. Ia seperti mesin diesel yang lambat panas.
"Dari sisi perolehan poin memang tak bagus. Tapi, dari sisi perasaan, saya merasa lebih baik dari awal musim tahun lalu. Saat ini prioritas saya adalah konsisten meraih poin dan tidak mengambil resiko yang tidak perlu," katanya.
Dengan pemikiran seperti itu sepertinya Bagnaia tak punya target menang di Austin. Tapi, begitu saat balapan, bisa jadi strateginya berubah sesuai situasi saat itu. Sebab, di COTA (Circuit of Texas Americas) apa saja bisa terjadi dan mengejutkan. Contohnya adalah sukses Alex Rins, Enea Bastinini dan Maverick Vinales yang di.luar dugaan bisa juara di sana.
"Sirkuit ini salah satu yang paling menyulitkan dan menuntut ketahanan fisik yang prima," sebut Bagnaia soal trek dengan 20 tikungan (9 kanan, 11 kiri) pendek-pendek plus lintasan lurus sekitar 1 km itu.
Meski begitu Bagnaia tetap maksimal mempersiapkan diri. Setidaknya karena GP AS lebih ia sukai dibandingkan sirkuit Termas de Rio Hondo (Argentina).
"Bersama manajer saya, Gianluca (Falcioni), kami menganiaya banyak hal. Bersama pelatih saya, Carlo (Casibianca), kami mencoba beberapa hal berbeda. Kami akan coba fight sejak sesi latihan."
Sesi latihan bebas pertama GP AS berlangsung Jumat (28/3) pagi waktu lokal atau Sabtu (29/3) dinihari WIB. (r)