Mobilinanews (Jakarta) - Seiring naiknya popularitas mobil listrik (EV) di Indonesia, pertanyaan soal keamanan pun ikut mengemuka. Salah satu yang cukup sering muncul: “Apakah mobil listrik aman melintasi rel kereta api?”
Kekhawatiran ini wajar, apalagi kita tahu rel kereta menghasilkan medan elektromagnetik (EM) dari arus listrik bertegangan tinggi. Pertanyaannya, apakah medan ini bisa mengganggu sistem mobil listrik yang penuh komponen elektronik sensitif? Yuk kita kupas tuntas.
Rel kereta api modern menggunakan sistem kelistrikan untuk menggerakkan lokomotif dan mengatur sinyal lalu lintas kereta. Saat kereta melaju, arus listrik mengalir di rel, menciptakan medan elektromagnetik di sekitarnya.
Kabar baiknya, medan ini umumnya lemah di luar area sangat dekat dengan rel, sehingga efeknya terhadap kendaraan, termasuk mobil listrik, relatif minim.
Produsen mobil listrik memang sudah memikirkan skenario seperti ini. Sistem baterai, motor listrik, hingga kontrol elektronik dilindungi oleh lapisan pelindung elektromagnetik.
Hal ini sesuai dengan standar ketat EMC (Electromagnetic Compatibility) yang berlaku di industri otomotif global.
Artinya, kendaraan harus bisa tetap berfungsi normal meskipun berada di lingkungan dengan sinyal atau medan elektromagnetik tinggi. Bahkan, kabel dan komponen elektronik mobil listrik biasanya dibungkus isolasi khusus untuk mencegah gangguan dari luar.
Dalam kondisi normal, medan elektromagnetik di rel kereta tidak cukup kuat untuk mengacaukan sistem penggerak, baterai, atau perangkat elektronik mobil listrik.
Namun, risiko bisa meningkat jika:
Mobil mengalami kerusakan pada sistem pelindungnya.
Ada kebocoran atau gangguan di komponen kelistrikan.
Karena itu, pemilik EV disarankan rutin melakukan servis dan pengecekan sistem kelistrikan, agar proteksi tetap optimal