Mobilinanews (Jakarta) - Keputusan dalam membeli mobil, terutama mobil listrik, tidak hanya soal performa dan harga, melainkan juga bagaimana layanan purna jual yang diberikan.
Hal inilah yang menjadi sorotan tajam dari Justinus Lhaksana atau yang akrab disapa Coach Justin, setelah mengalami pengalaman tidak menyenangkan dengan kebijakan servis mobil BYD Seal miliknya.
Dalam sebuah video yang diunggah di kanal YouTube Trifellas, Coach Justin mengungkapkan kekecewaannya. Ia dikenakan biaya servis padahal seharusnya gratis, hanya karena terlambat satu bulan dari jadwal perawatan berkala yang ditentukan.
Masalah Prinsip: Denda Keterlambatan Servis
Coach Justin menceritakan, ia memiliki jadwal servis pada 1 Agustus 2025. Namun karena kesibukan, ia baru bisa membuat janji untuk servis pada 2 September 2025. Terlambat satu bulan dari jadwal, ia terkejut saat dikenakan biaya.

“Setahun ini kan ada servis berkala. Dia bilang 1 Agustus (jadwal servis), tapi saya sibuk dan baru sempat bikin janji 2 September. Eh malah kena charge. Katanya gara-gara telat sebulan, padahal servisnya gratis,” keluh Coach Justin.
Menurutnya, masalah ini bukan tentang uang, melainkan tentang prinsip. Ia bahkan menolak tawaran tim pemasaran BYD yang ingin mengganti biaya tersebut. Ia berpendapat, kebijakan ini berpotensi merugikan konsumen lain yang mengalami hal serupa.
Perbandingan dengan Merek Lain dan Dampak ke Konsumen
Pengalaman ini sangat berbeda dengan yang ia rasakan bersama merek lain seperti Honda, Mazda, hingga Mini. Merek-merek tersebut, menurut Coach Justin, jauh lebih fleksibel dan tetap memberikan layanan servis gratis meskipun konsumen terlambat dari jadwal.
“Ini masalah kebijakan. Sudah ada 12–13 merek China di Indonesia, seharusnya memberikan servis yang benar,” tegasnya. Ia khawatir, jika kebijakan seperti ini terus diterapkan, kepercayaan konsumen terhadap merek mobil listrik Tiongkok bisa menurun.

Di tengah persaingan pasar yang semakin ketat, pelayanan purna jual yang adil dan fleksibel adalah kunci untuk memenangkan hati konsumen. Ia menekankan bahwa konsumen membutuhkan kepastian layanan yang jelas.
Pelajaran untuk Konsumen dan Pabrikan
Kasus ini menjadi pengingat penting bagi calon pembeli mobil listrik untuk tidak hanya fokus pada spesifikasi, tetapi juga pada detail kebijakan servis. Coach Justin berpesan agar calon pembeli tidak ragu menanyakan kemungkinan adanya denda jika terlambat melakukan perawatan berkala.
Bagi para pabrikan, pengalaman ini adalah alarm. Penting bagi mereka untuk mendengarkan kebutuhan konsumen dan membangun kepercayaan melalui pelayanan purna jual yang lebih bersahabat.
Tanpa layanan yang memuaskan, merek-merek baru, termasuk dari Tiongkok, akan sulit bertahan di pasar otomotif Indonesia yang sangat kompetitif.