Mobilinanews (Jakarta) - Gelar juara dunia Formula 1 (F1) musim 2025 akhirnya jatuh ke tangan Lando Norris usai persaingan yang sengit. Meski demikian, euforia kemenangan tersebut tidak lantas menciptakan sekat atau mengubah hierarki internal di kubu McLaren.
Oscar Piastri, sang rekan setim yang sempat memimpin klasemen di awal musim, menegaskan bahwa hubungan kerja dan dinamika kompetisi di antara mereka akan tetap berada pada jalur yang sama seperti sebelumnya.
Piastri memandang pencapaian Norris sebagai hasil dari kerja keras yang luar biasa, namun meski telah meraih gelar juara dunia, baginya, Norris tetaplah sosok pembalap yang sama yang ia hadapi di lintasan setiap akhir pekan.
Piastri secara berseloroh menyebutkan bahwa kemenangan itu tidak serta-merta mengubah Norris menjadi sosok pahlawan super, sehingga tidak ada alasan bagi dirinya untuk merasa gentar atau mengubah pendekatannya dalam membalap di musim mendatang.

“Saya tidak berpikir hal tersebut akan mengubah apa pun. Bagi saya, dia jelas menjalani musim yang luar biasa tahun ini dan layak menjadi juara, tetapi dia tetaplah Lando Norris. Bukan berarti dia tiba-tiba menjadi ‘Superman’,” ucap Piastri, Rabu (31/12/2025).
“Jadi, saya tidak merasa hal-hal akan berubah karena itu (gelar juara dunia). Saya mengharapkan keadilan penuh dari tim dan kesetaraan kedepannya. Saya tidak memiliki kekhawatiran sedikitpun bahwa hal itu akan berubah,” tambahnya.
Perjalanan menuju gelar juara tahun 2025 memang menjadi salah satu yang paling dramatis dalam sejarah modern F1. Piastri sempat menunjukkan dominasi di paruh pertama musim, namun momentum berbalik arah setelah Norris tampil dominan di Meksiko.
Pertarungan segitiga yang melibatkan Max Verstappen ini berakhir dengan selisih poin yang sangat tipis. Norris mengamankan gelar perdananya hanya dengan keunggulan dua poin dari Verstappen, sementara Piastri harus puas mengakhiri musim di posisi ketiga.
Meski harus merelakan gelar juara kepada rekan setimnya, Piastri tetap optimis mengenai masa depannya di tim. Ia menyatakan keyakinannya bahwa manajemen McLaren akan terus menjunjung tinggi prinsip kesetaraan yang telah menjadi fondasi kesuksesan mereka.

Pembalap berusia 24 tahun itu tidak melihat adanya potensi perlakuan istimewa bagi sang juara bertahan, karena tim telah membuktikan bahwa membiarkan kedua pembalap bertarung secara adil justru menjadi kunci keberhasilan mereka meraih double winner.
Kebijakan yang dikenal dengan istilah ‘Papaya Rules’ memang sempat menuai kritik pedas dari berbagai pengamat yang menilai strategi itu berisiko merugikan tim. Namun, Piastri membela pendekatan itu sebagai sebuah pembuktian karakter McLaren dalam dunia balap.
Ia mengakui bahwa persaingan internal antara dua pembalap yang memiliki level performa setara sering kali menciptakan momen tidak nyaman dan ketegangan tinggi. Namun, justru tekanan itulah yang memaksa dirinya dan Norris untuk terus berkembang melampaui batas.
“Ini adalah bukti dari cara kami membalap. Tentu tidak mudah berjuang untuk gelar Juara Konstruktor sekaligus Juara Dunia Pembalap dengan dua pembalap yang kemampuannya sangat seimbang. Itu adalah masalah yang sudah kami duga akan terjadi,” jelasnya.
“Ya, terkadang ada momen-momen sulit dan ketegangan, tetapi menurut saya baik Lando maupun saya telah menjadi pembalap yang lebih baik karena saling mendorong hingga batas maksimal,” sambung pembalap asal Australia itu.

Menatap musim depan, Piastri melihat dinamika tersebut sebagai aset berharga, bukan beban. Ia mengakui bahwa diskusi intens akan terus dilakukan selama jeda musim untuk mengevaluasi segala kekurangan, namun prinsip utamanya tetap tidak berubah.
Piastri merasa puas karena McLaren telah memberikan kesempatan yang adil bagi keduanya untuk bertarung memperebutkan mahkota juara dunia, sebuah kesempatan yang menurutnya adalah hal paling maksimal yang bisa diminta oleh seorang pembalap.
“Kami telah melakukan banyak diskusi sepanjang tahun ini, dan saya yakin kami akan berdiskusi selama jeda musim tentang apa pun yang ingin kami lakukan secara sedikit berbeda untuk tahun depan,” tuturnya.
“Namun saya rasa pada akhirnya, tim telah memberikan kami berdua kesempatan terbaik yang mereka bisa untuk bertarung secara adil demi gelar Juara Dunia, dan hanya itulah yang bisa Anda harapkan sebagai seorang pembalap,” pungkas Oscar Piastri.