Mobilinanews (Jakarta) - Kemenangan Nasser Al-Attiyah dalam ajang Reli Dakar 2026 kategori Ultimate tidak hanya menjadi pembuktian bagi ketangguhan sang pembalap legendaris asal Qatar tersebut, tetapi juga menandai debut gemilang Dacia Sandriders.
Mobil prototipe ini dirancang khusus untuk menaklukkan medan ekstrim Arab Saudi dengan filosofi desain yang mengutamakan esensi fungsionalitas di atas segalanya untuk dapat menggapai puncak podium tertinggi.
Tim Dacia Sandriders tampil dengan desain eksterior yang sangat minimalis dan agresif, sebuah perwujudan nyata dari konsep "Dacia Manifesto". Panel bodi mobil ini dibuat full serat karbon untuk memangkas bobot hingga 15 kg dibandingkan kompetitor sejenis.
Menariknya, Dacia menghilangkan hampir seluruh panel yang tidak diperlukan, menghasilkan bentuk yang sangat ringkas dengan panjang hanya 4,14 meter dan wheelbase 3 meter guna meningkatkan kelincahan di atas gundukan pasir.

Secara detail keseluruhan, mobil balap reli Dacia Sandriders miliki sang juara Reli Dakar 2026 kategori Ultimate ini memiliki dimensi panjang 4.140 mm, lebar 2.290 mm, tinggi 1.810 mm dengan jarak sumbu roda atau wheelbase sebesar 3.000 mm.
Salah satu fitur unik di bagian eksterior adalah penggunaan panel magnetik di sisi bodi. Inovasi ini sangat krusial saat perbaikan darurat di tengah gurun, karena memungkinkan kru atau pembalap menempelkan baut-baut roda agar tidak hilang tertimbun pasir.
Visibilitas juga menjadi fokus utama, di mana kap mesin dibuat sangat pendek dan miring ke bawah untuk memberikan pandangan yang luas ke arah lintasan di depan, khususnya lintasan yang didominasi dengan hamparan gurun pasir yang luas.
Masuk ke bagian dalam, kabin Sandriders dirancang sebagai ruang kerja yang sangat teknis namun nyaman bagi Nasser dan navigatornya, Fabian Lurquin. Dasbor mobil dilapisi dengan cat anti-pantulan cahaya guna mencegah silau yang bisa mengganggu konsentrasi.

Seluruh kursi merupakan unit khusus dari Sabelt yang dilapisi kain antibakteri dengan kemampuan pengatur kelembaban, fitur penting untuk menjaga kenyamanan fisik selama belasan jam di dalam kabin yang panas.
Kecanggihan interior ini juga mencakup sistem pendingin helm opsional dan manajemen panas tingkat lanjut yang dikembangkan oleh insinyur Renault Group yang merupakan induk perusahaan dari Dacia.
Meskipun ruang kokpit terasa sempit karena penuh dengan peralatan navigasi dan sistem keselamatan FIA, penempatan instrumen dibuat modular agar mudah dijangkau oleh tangan pebalap dalam kondisi guncangan ekstrem sekalipun.
Di sektor dapur pacu, Dacia Sandriders mengandalkan mesin berkode 41A05, V6 3.0 liter twin-turbo dengan sistem injeksi langsung yang mampu memuntahkan tenaga sebesar 360 HP pada 5.000 rpm dan torsi puncak mencapai 539 Nm pada 4.250 rpm.

Mesin yang dipasok oleh Nissan itu tidak hanya kuat secara tenaga, tetapi juga ramah lingkungan karena menggunakan bahan bakar sintetis dari Aramco. Tenaga itu disalurkan melalui transmisi sekuensial 6-percepatan ke sistem penggerak empat roda (4x4).
Ketahanan menjadi kunci utama kemenangan Al-Attiyah. Mobil ini dilengkapi dengan suspensi double wishbone yang memiliki jarak main (travel) hingga 350 mm, didukung oleh ban BF Goodrich 37 inci yang sangat tangguh terhadap benturan batu tajam.
Untuk menghadapi debu dan pasir yang halus, sistem pendinginan telah diperbarui dengan kisi-kisi radiator belakang yang tetap optimal meski sebagian tersumbat pasir, serta filter busa khusus pada bagian depan untuk melindungi kipas pendingin.
Tak sampai disitu, komponen internal mesin seperti batang penghubung (connecting rods) juga telah mendapatkan homologasi FIA terbaru untuk memastikan reliabilitas maksimal hingga mencapai garis finis.

Dominasi Nasser Al-Attiyah bersama Dacia Sandriders di Dakar 2026 bukan sekadar kemenangan teknis, melainkan sebuah pernyataan bahwa masa depan reli dunia terletak pada efisiensi yang cerdas.
Dacia berhasil membuktikan bahwa dengan membuang segala hal yang tidak diperlukan dan fokus pada esensi ketahanan, sebuah merek yang dikenal dengan kendaraan harian yang terjangkau mampu menaklukkan medan paling kejam di planet ini.
Kemenangan ini sekaligus menutup babak baru dalam sejarah otomotif, di mana bahan bakar sintetis dan material ringan kini menjadi kunci untuk menjadi yang tercepat di tengah kepungan badai pasir.
Bagi Nasser, trofi ini adalah bukti kejeniusannya di balik kemudi, namun bagi Dacia, ini adalah awal dari era baru di mana nama mereka tidak lagi hanya diasosiasikan dengan jalanan kota, melainkan sebagai penguasa baru di cakrawala gurun yang tak bertepi.