Mobilinanews (Jakarta) - Dunia balap MotoGP selalu penuh dengan drama di balik lintasan, dan Maverick Vinales kini blak-blakan mengenai salah satu momen paling kontroversial dalam kariernya.
Pembalap asal Spanyol yang dikenal dengan julukan ‘Top Gun’ ini mengakui bahwa perpisahannya yang dramatis dengan Yamaha pada pertengahan musim 2021 meninggalkan jejak penyesalan yang mendalam.
Dalam sebuah wawancara mendalam yang mengutip laporan resmi dari Motosan, Vinales mengungkapkan bahwa keputusan tersebut diambil dalam kondisi mental yang tidak stabil dan terlalu dipengaruhi oleh luapan emosi sesaat.
Kisah Vinales bersama pabrikan garpu tala memang berakhir dengan cara yang mengejutkan publik. Setelah membela Yamaha sejak tahun 2017 dan menyumbangkan 8 kemenangan serta 24 podium, hubungan keduanya retak hingga mencapai titik nadir.

Vinales menyadari bahwa meninggalkan struktur tim yang sudah mapan bukanlah perkara mudah. Ia tak menampik bahwa ada gejolak batin saat itu, terutama ketika harus menimbang antara finansial dengan kebutuhan mendesak demi kesehatan mentalnya.
Secara teknis, Vinales menjelaskan bahwa keputusannya untuk hengkang memang memiliki sisi positif. Saat itu, Yamaha mulai memasuki fase sulit dalam pengembangan motor YZR-M1, sementara Aprilia sedang menunjukkan tren pertumbuhan yang sangat pesat.
"Ketika saya meninggalkan Yamaha, saya menyesalinya. Jika dilihat dari sisi olahraga, pindah mungkin keputusan tepat. Saat itu Aprilia sedang tumbuh pesat dan memungkinkan saya tetap kompetitif, sementara Yamaha tengah dalam kondisi sulit," jelas Vinales.
Pindah ke pabrikan Italia itu dianggap sebagai langkah strategis yang tepat secara olahraga karena memungkinkannya untuk tetap berada di barisan depan. Namun, cara kepergiannya yang emosional menjadi pelajaran berharga dalam mengambil keputusan di masa depan.
Kini, setelah melewati masa-masa transformatif di Aprilia dan akhirnya memutuskan untuk berlabuh ke KTM, Vinales merasa telah menjadi pribadi yang berbeda. Ia tidak lagi memikirkan perasaan sesaat mendominasi logika profesionalnya.

Keputusan untuk bergabung dengan proyek baru bersama KTM diambil dengan kepala dingin dan perhitungan yang matang. Vinales menegaskan bahwa dirinya saat ini jauh lebih cerdas dalam menavigasi bursa transfer pembalap.
"Saya tidak menyesal meninggalkan Aprilia. Kami hanya menempuh jalan yang berbeda. Saya mencintai KTM dan Rencana A saya adalah bertahan di sini. Tetapi saya juga harus rasional dan memilih opsi terbaik untuk masa depan,” terangnya.
Perjalanan karier Vinales menjadi pengingat, terutama bagi para pembalap muda yang masih memiliki emosional yang tinggi bahwa talenta di atas lintasan harus dibarengi dengan ketenangan di meja perundingan.
Dari sosok yang impulsif saat meninggalkan Yamaha, kini Vinales bertransformasi menjadi pembalap yang lebih stabil secara psikologis. Dengan semangat baru di tim KTM, ia siap membuktikan bahwa kedewasaan mental adalah kunci utama untuk kembali meraih gelar.