Minyak Dunia Meroket: Siapkan Sabuk Pengaman untuk Guncangan Harga Nasional

Senin, 09/03/2026 20:58 WIB | Ade Nugroho
Minyak Dunia Meroket
Minyak Dunia Meroket

 

mobilinanews (Jakarta) – Dunia sedang tidak baik-baik saja, dan kali ini dampaknya langsung mengarah ke tangki kendaraan kita. Ketegangan geopolitik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat baru saja memicu guncangan hebat di pasar energi global.

Bagi kita yang sehari-hari bermobilitas, kenaikan harga minyak mentah dunia bukan sekadar berita luar negeri, tapi sinyal waspada bagi pengeluaran bulanan. Berikut adalah rangkuman situasi terkini yang perlu kamu tahu:

Lompatan Harga yang Drastis

Angka tidak bisa berbohong. Hanya dalam waktu satu bulan, terjadi anomali harga yang cukup ekstrem:

Artinya, ada kenaikan sekitar USD 40 atau lebih dari 60% hanya dalam hitungan minggu. Secara matematis, tekanan terhadap harga BBM nonsubsidi di Indonesia menjadi sangat besar.

Mengapa Harga BBM Kita Ikut Terancam?

Mungkin kamu bertanya, "Kan kita punya sumur minyak sendiri?" Betul, tapi faktanya kebutuhan nasional kita masih sangat bergantung pada impor, terutama dari negara-negara Timur Tengah.

Berdasarkan parameter Kementerian ESDM, harga BBM (khususnya nonsubsidi) ditentukan oleh:

  1. MOPS (Mean of Platts Singapore): Acuan harga pasar di kawasan Asia.

  2. Nilai Tukar Rupiah: Jika Dolar AS menguat, biaya impor makin mahal.

  3. Geopolitik: Konflik di negara produsen otomatis mengganggu suplai.

Apa Kata Pertamina?

Meski tekanan harga sudah di depan mata, PT Pertamina (Persero) melalui VP Corporate Communication, Muhammad Baron, menyatakan bahwa hingga saat ini belum ada penyesuaian tarif. Pertamina masih dalam posisi memantau perkembangan situasi global secara ketat sebelum mengambil keputusan pahit untuk menaikkan harga di SPBU.

Penentuan harga ini nantinya akan tetap mengacu pada Keputusan Menteri (Kepmen) ESDM No. 245.K/2022.

 Di tengah ketidakpastian ini, ada baiknya kita mulai mengevaluasi gaya berkendara atau mulai melirik transportasi umum jika memungkinkan. Kenaikan 60% pada bahan baku biasanya akan "menetes" ke harga eceran dalam waktu yang tidak lama.