Mobilinanews (Australia) - Lampu hijau musim balap Formula 1 (F1) 2026 tidak hanya menandai era regulasi baru, tetapi juga mencatatkan tinta emas, khususnya bagi tim pendatang baru, Audi.
Pabrikan asal Jerman ini berhasil mencuri perhatian di seri pembuka GP Australia lewat aksi gemilang Gabriel Bortoleto yang sukses mengamankan poin perdana bagi tim dalam balapan debut mereka.
Meski mengambil alih struktur tim Sauber, Audi tampil sebagai konstruktor penuh dengan memproduksi unit daya (power unit) sendiri. Di bawah komando Team Principal Jonathan Wheatley, tim ini menunjukkan ketenangan luar biasa sejak sesi latihan di Melbourne.
Puncaknya, Bortoleto yang memulai balapan dari posisi ke-10 berhasil finis di urutan ke-9. Pencapaian ini terbilang impresif mengingat pembalap muda Brasil tersebut menggunakan strategi dua stop yang secara teori lebih lambat dibanding rival-rivalnya.

Jonathan Wheatley tidak bisa menyembunyikan rasa bangganya atas momen yang ia sebut sebagai kejadian bersejarah. “Ini adalah momen bersejarah, mobil Audi F1 mencetak poin di balapan pertamanya," ujar Wheatley mengutip siaran F1, Rabu (11/3/2026).
Menurutnya, fokus tim selama musim dingin adalah kunci utama. Mereka memilih untuk menutup telinga dari kebisingan performa tim lain saat pengujian di Bahrain dan lebih memilih menyempurnakan paket mobil mereka sendiri.
Namun, kegembiraan di garasi Audi terasa sedikit kontras. Wheatley menggambarkan situasi timnya seperti "Yin dan Yang" karena nasib sial yang menimpa rekan setim Bortoleto yakni, Nico Hulkenberg.
Pembalap veteran tersebut gagal memulai balapan setelah mobilnya mengalami kehilangan telemetri saat menuju grid, sebuah masalah teknis yang masih dalam investigasi mendalam namun dipastikan berbeda dengan kendala yang sempat dialami Bortoleto saat kualifikasi.
Di balik kemudi, Gabriel Bortoleto membuktikan bahwa dirinya bukan sekadar pembalap debutan biasa. Wheatley memuji habis-habisan etos kerja pembalap mudanya tersebut yang menghabiskan seluruh bulan Januari di simulator, alih-alih bersantai di negara asalnya.

Dedikasi inilah yang membuat Bortoleto mampu mengekstrak performa maksimal dari mobil R26 di tengah persaingan lini tengah yang sangat ketat.
Tantangan besar kini menanti Audi. Sebagai satu-satunya tim yang menggunakan mesin buatan sendiri tanpa tim satelit, mereka kekurangan data pembanding jika dibandingkan dengan raksasa seperti Mercedes atau Ferrari.
Dengan demikian, Wheatley mengakui bahwa mereka sedang dalam posisi mengejar, namun ia optimis dengan kecepatan belajar timnya dalam memahami karakteristik mesin dan regulasi baru ini.
"Setiap kali kami membawa mobil baru ini ke lintasan dengan karakteristik yang berbeda, tatanan persaingan bisa berubah. Perjalanan ini baru dimulai, dan ini akan menjadi sangat menarik," tutup Wheatley dengan penuh optimisme.