Lampung Dipilih Jadi Lokasi Awal Pengembangan Ekosistem Bioetanol Nasional

Rabu, 17/06/2026 10:49 WIB |
Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/Wakil Kepala BKPM Todotua Pasaribu dalam kunjungan kerja ke Provinsi Lampung, Selasa (9/6/2026). ANTARA/HO-BKPM
Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/Wakil Kepala BKPM Todotua Pasaribu dalam kunjungan kerja ke Provinsi Lampung, Selasa (9/6/2026). ANTARA/HO-BKPM

MOBILINANEWS.COM - Pemerintah terus mempercepat pengembangan industri bioetanol nasional sebagai bagian dari strategi hilirisasi dan transisi energi untuk memperkuat ketahanan energi Indonesia.

Salah satu upaya yang tengah dilakukan adalah penjajakan pengembangan bioetanol terintegrasi di Provinsi Lampung. Proyek ini diharapkan dapat menjadi model pengembangan energi terbarukan berbasis pertanian dan sumber daya domestik.

Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/Wakil Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Todotua Pasaribu mengatakan, Lampung dipilih sebagai lokasi awal pengembangan karena memiliki keunggulan dari sisi bahan baku maupun dukungan infrastruktur.

"Lampung memiliki feedstock paling mumpuni untuk pengembangan bioetanol nasional. Selain itu, posisinya sangat strategis karena dapat memasok kebutuhan Sumatera dan sebagian Jawa yang merupakan pusat konsumsi energi terbesar di Indonesia. Karena itu, kami menetapkan Lampung sebagai lokasi awal pengembangan ekosistem bioetanol nasional," ujar Todotua dalam Rapat Koordinasi dan Kunjungan Lapangan Pengembangan Bioetanol Terintegrasi di Provinsi Lampung yang dipimpin Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/Wakil Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Todotua Pasaribu bersama Pemerintah Provinsi Lampung, PT Pertamina New and Renewable Energy (PNRE), PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN), serta para pemangku kepentingan terkait.

Pada kesempatan tersebut juga dilakukan penandatanganan Joint Declaration bertajuk Collaboration in Establishing Bioethanol Ecosystem Development in Lampung Province oleh Pemerintah Provinsi Lampung, PNRE, TMMIN, dan PT Toyota Tsusho Indonesia (TTI).

Seperti dikutip dari siaran pers Biro Protokol dan Hubungan Masyarakat Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, yang dipantau pada Rabu (17/6) deklarasi ini menjadi landasan kolaborasi para pihak dalam pengembangan rantai pasok bahan baku, pembangunan fasilitas produksi bioetanol, penguatan kemitraan dengan sektor pertanian, pengembangan teknologi, serta percepatan realisasi investasi guna mendukung ketahanan energi nasional.

Penjajakan pengembangan bioetanol ini merupakan tindak lanjut pertemuan Wakil Menteri Todotua dengan Toyota Motor Corporation serta kunjungan ke fasilitas riset di Fukushima milik Research Association of Biomass Innovation for Next Generation Automobile Fuels (raBit), Jepang.

Kolaborasi tersebut membuka peluang transfer teknologi, pengembangan kapasitas sumber daya manusia, serta penguatan ekosistem industri bioetanol nasional.

Dalam kunjungan lapangan ke Kecamatan Tegineneng, Kabupaten Pesawaran dan Desa Rejosari, Kabupaten Lampung Selatan, rombongan meninjau kesiapan lokasi yang diproyeksikan menjadi kawasan pengembangan bioetanol terintegrasi.

Hasil peninjauan menunjukkan bahwa Lampung memiliki potensi bahan baku yang kuat, baik berupa molases tebu, sorgum, maupun limbah biomassa yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan bioetanol generasi pertama dan generasi kedua (second generation bioethanol).

Selain didukung posisi geografis yang strategis dan infrastruktur logistik yang memadai, proyek ini juga membuka peluang kemitraan antara industri dan petani lokal melalui pengembangan budidaya sorgum sebagai sumber bahan baku tambahan.

 

Dukungan Penuh dari Pemprov Lampung

Pemerintah Provinsi Lampung menyatakan dukungan penuh terhadap pengembangan proyek ini guna mempercepat realisasi investasi.

Proyek bioetanol yang direncanakan di Provinsi Lampung akan menggunakan konsep multi-feedstock dengan memanfaatkan berbagai bahan baku seperti molases, sorgum, dan limbah biomassa.

Pada tahap awal, proyek percontohan direncanakan mencakup penanaman sorgum varietas Enryu seluas 10 hektare dan pembangunan fasilitas bioetanol berkapasitas 60 KL/tahun. Tahap komersial meliputi penanaman sorgum varietas Enryu seluas 6.000 hektare di Lampung serta pembangunan pabrik bioetanol berkapasitas 60.000 KL/tahun yang ditargetkan dimulai pada Q3 2027 dan mulai beroperasi pada Q4 2028.

Sebagai tindak lanjut dari deklarasi bersama dan kunjungan lapangan tersebut, para pihak akan mempercepat pelaksanaan studi kelayakan (joint feasibility study), penyusunan perencanaan proyek, pengembangan budidaya sorgum percontohan, serta finalisasi skema pembiayaan dan kemitraan strategis guna memastikan kesiapan implementasi proyek secara menyeluruh.

"Yang ingin kita bangun bukan hanya pabrik, tetapi ekosistem ekonomi. Feedstock ada di sini, logistik ada di sini, masyarakat agrikulturnya juga ada di sini. Tinggal kita maksimalkan. Karena itu mari kita mulai saja. Yang penting proyek ini berjalan dan memberikan manfaat bagi masyarakat, petani, industri pendukung, serta memperkuat ketahanan energi nasional," pungkas Todotua.

Melalui kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, BUMN, pelaku usaha, dan mitra internasional tersebut, proyek bioetanol terintegrasi di Lampung ini diharapkan menjadi langkah penting dalam mempercepat pengembangan industri bioetanol nasional yang berdaya saing, berkelanjutan, dan mendukung target hilirisasi serta ketahanan energi Indonesia. *