mobilinanews (Jakarta) - EasyGo Indonesia, perusahaan penyedia solusi Transportation Management System (TMS) resmi meluncurkan TMS EasyGo 2.0. di Klub Kelapa Gading, Jakarta Utara, Rabu (5/8).
Produk ini meruapakan generasi terbaru platform manajemen transportasi yang dirancang untuk mengintegrasikan seluruh alur operasional transportasi dan logistik dalam satu sistem end-to-end, real-time, dan didukung teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
Produk ini mengusung tema “Connected Transport & Logistics - Now Evolved” sebagai bentuk komitmen EasyGo untuk menghadirkan teknologi yang semakin terhubung, mudah digunakan, serta relevan dengan kebutuhan industri transportasi dan logistik yang terus berkembang.
TMS EasyGo 2.0 membawa tiga fondasi utama, yaitu One Platform, End-to-End Visibility, dan AI-Powered. Tujuannya adalah menjawab tantangan yang selama ini masih dihadapi industri logistik Indonesia.
Asal tahu saja, dalam praktiknya, banyak operasional perusahaan masih bergantung pada sejumlah sistem yang berjalan secara terpisah dan tidak saling terhubung, mulai dari pelacakan GPS, pencatatan order melalui telepon, WhatsApp, hingga perawatan armada yang baru dilakukan setelah kendaraan mengalami kendala.
“TMS EasyGo 2.0 merupakan evolusi dari platform yang selama ini telah digunakan oleh pelanggan kami. Kami tidak hanya memperbarui tampilannya, tetapi juga menyempurnakan pengalaman pengguna dan menambahkan modul-modul yang lebih relevan dengan kebutuhan operasional transportasi saat ini,” ujar Project Manager IT PT EasyGo Indonesia Muhammad Adrian di Jakarta.
“Tujuan kami sederhana: membantu tim operasional bekerja lebih mudah, memberikan informasi yang lebih jelas kepada manajemen, dan memastikan setiap keputusan dapat diambil berdasarkan data yang terhubung secara real-time,” lanjutnya.
Berdasarkan data internal EasyGo dari lebih dari 1.000 klien aktif, biaya bahan bakar dapat mencapai sekitar 35-45 persen dari total biaya operasional logistik.
Di sisi lain, rata-rata tingkat pemenuhan Service Level Agreement atau SLA pengiriman masih berada di angka 85 persen, sementara target industri mencapai 95 persen. Perencanaan rute secara manual juga masih dapat memerlukan waktu hingga dua sampai tiga jam setiap harinya.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tantangan industri bukan semata-mata disebabkan oleh kekurangan armada atau sumber daya manusia, tetapi juga oleh sistem operasional yang terfragmentasi.
Data yang tersebar membuat koordinasi menjadi lebih panjang, respons terhadap masalah lebih lambat, dan manajemen sulit memperoleh gambaran operasional secara menyeluruh.
Evolusi dari ke TMS EasyGo 2.0
EasyGo telah membuka jalan bagi inovasi TMS EasyGo sebagai sistem untuk membantu perusahaan mengelola armada, order, pengiriman, dan berbagai aktivitas operasional transportasi.
Melalui TMS EasyGo 2.0, platform tersebut dikembangkan menjadi sistem yang lebih terintegrasi dengan pembaruan pada tampilan antarmuka atau User Interface (UI) dan pengalaman pengguna atau User Experience (UX).
Navigasi dibuat lebih intuitif, informasi penting disajikan lebih ringkas, dan berbagai aktivitas operasional dapat dipantau dengan lebih mudah melalui dashboard yang saling terhubung.
Selain pembaruan UI dan UX, TMS EasyGo 2.0 juga menghadirkan penguatan serta penambahan sejumlah modul yang dirancang lebih khusus untuk menjawab kebutuhan operasional transportasi dan logistik.
Pengembangan tersebut mencakup pengelolaan perawatan armada, optimasi rute, monitoring berbasis AI, pengelolaan armada mitra, keamanan muatan, pusat kontrol operasional, hingga otomatisasi proses penyelesaian pengiriman dan penagihan.
Pada akhirnya, inovasi ini sangat membantu perusahaan mencatat dan mengelola informasi armada secara menyeluruh melalui Master Vehicle, termasuk data kendaraan, biaya tetap, utilisasi, serta riwayat operasional.