Mobilinanews (Baku) - Ajang Grand Prix Azerbaijan menjadi momen sangat krusial bagi Williams saat mereka meluncurkan paket pembaruan besar yang dinantikan untuk jet darat FW48 di seri putaran ke-15 F1 2026 di Sirkuit Baku, Azerbaijan.
Hingga saat ini, perjalanan musim 2026 terasa sangat menyakitkan bagi kedua pembalap utama mereka, Carlos Sainz dan Alex Albon, terutama jika melihat potensi menjanjikan yang sempat ditunjukkan oleh tim pada ajang musim balap lalu.
Keterlambatan pengembangan memaksa Williams melewatkan Sesi Shakedown di Barcelona, dan ketika mobil akhirnya mengaspal, FW48 terbukti kelebihan berat badan secara signifikan serta menyisakan berbagai masalah sejak awal musim.
Sejak awal, mirip dengan Aston Martin, tim mengambil keputusan untuk fokus pada paket besar di paruh kedua musim, meski Williams tetap memberikan beberapa komponen baru seperti sayap depan yang direvisi di Sirkuit Silverstone.

Hasil balapan berbicara sendiri, di mana awal musim mereka meraih lima kali finis berpoin dengan hasil terbaik P8 milik Albon di Monaco, namun sejak itu Williams gagal mencetak poin dan sering terlempar ke posisi 15 hingga 17.
Penurunan ini terjadi karena keandalan pesaing membaik serta laju pengembangan rival papan tengah sangat masif, di mana Alex Albon menyoroti ketertinggalan timnya usai menjalani balapan yang sangat sulit pada gelaran GP Madrid.
“Biasanya tim papan tengah membawa satu atau dua paket per tahun. Tahun ini, mereka membawa tiga hingga empat pembaruan besar. Pada tahun normal, Baku akan membuat kami bersaing kembali, namun kini kami tertinggal," ujar Albon, dikutip Sabtu (19/9/2026).
Ketika paket Baku disetujui beberapa bulan lalu, angka potensi peningkatannya sangat menjanjikan. Namun, seiring meningkatnya performa rival, FW48 memang akan lebih cepat, tetapi tidak akan ada lonjakan drastis di posisi kisi.

Langkah ini menjadi taruhan terakhir Williams di musim 2026 sebelum mengalihkan fokus ke FW50. Albon mengakui timnya tertinggal 50 detik dari papan tengah, yang berarti mereka kehilangan satu detik per putaran pada tiap balapan.
"Kami paham ini akan jadi langkah baik, tetapi apakah ini langkah penuh? Saya ragu. Kami sadar posisi kami terlalu jauh di belakang saat ini, jadi fokus utama kami harus dialihkan untuk pengembangan tahun depan," tambah Albon.
Tahun lalu, Carlos Sainz berhasil meraih posisi kualifikasi kedua dan finis ketiga di Azerbaijan, sebuah pengingat betapa kompetitifnya Williams pada masa lalu. Namun, seperti halnya Albon, pembalap Spanyol itu tetap realistis.
"Pembaruan ini akan membantu kami mendekati perebutan poin dan meningkatkan motivasi tim. Namun secara realistis, ini masih jauh dari target dan janji kami. Harapan terbesar kami adalah berfokus pada musim depan," ungkap Sainz.

Paket di Baku mungkin belum mampu membawa tim Williams menembus kualifikasi Q3 secara rutin, namun yang terpenting adalah membuktikan bahwa peningkatan performa yang dihitung beberapa bulan lalu memang bekerja sesuai simulasi.
GP Baku menjadi ujian krusial bagi Prinsipal Tim James Vowles, sosok yang bertugas membawa Williams kembali bersaing di papan atas dan telah meyakinkan Albon serta Sainz untuk mengikat komitmen jangka panjang bersama tim Grove.
Vowles menjelaskan bahwa keterlambatan teknologi simulasi pada akhir tahun 2025 lalu membuat tim sempat mengambil arah pengembangan ketinggian berkendara belakang yang keliru, sebuah kesalahan teknis yang kini telah dikoreksi.
Jika berfungsi sesuai harapan, paket Baku akan membuktikan bahwa Grove bergerak ke arah yang benar, meski Vowles menegaskan tanpa jaminan mutlak untuk mobil 2027 karena fokus utama mereka adalah memperkuat sistem tim internal.