mobilinanews (Qatar) - Drama panjang MotoGP belum berakhir. Perburuan gelar juara dunia 2026 memang sudah dalam genggaman satu tangan Marc Marquez. Tapi, Aprilia bertekad untuk melawan sampai benar-benar kehabisan nafas.
Pembalap pabrikan Aprilia, Jorge Martin dan Marco Bezzecchi, memang butuh keajaiban untuk meraih gelar 2026 karena masing-masing sudah tertinggal 44 dan 67 poin dari Marquez.
Tapi dengan tiga seri sisa kompetisi, peluang masih ada. Dimulai dan ditentukan dari GP Qatar di Sirkuit Lusail pada 6-8 November akhir pekan ini.
Jika Marquez meraih 30 poin atau lebih di Qatar maka saat itu juga ia menyegel gelar 2026 dan akan menerima trofi juara dunianya di akhir musim.
Itu artinya MM93 harus memenangkan dua sesi balap, sprint dan main race. Jika tak bisa double winner, cukup dengan juara di sprint (12 poin) dan runner up di balapan utama (20 poin) dengan total poin 32. Atau juara di main race (25 poin) dan masuk 5 Besar di sprint race.
Mampukah Marquez meraih jumlah itu di Lusail?
Tak ada yang bisa menjawab karena apa saja bisa terjadi saat balapan.
Yang pasti Aprilia bisa menggagalkan gelar Marquez di Lusail, baik oleh Martin maupun Bezzecchi yang saat ini duduk di peringkat 2 dan 3. Syaratnya adalah kebutuhan 8 poin pada tanggal 8 November nanti. Ya, serba angka 8, entah itu akan menjadi berkah atau tidak buat Aprilià sebagai pesaing berat Ducati sebagai sesama pabrikan Italia.
Sknenarionya sederhana, tapi sangat ribet untuk diwujudkan. Begini formatnya:
- Martin bisa menggagalkan selebrasi Marquez di Qatar asalkan mampu finish dengan meraih 8 poin atau lebih terlepas dari posisi finish rivalnya. Yang Martin butuhkan finish di grup 8 Besar. Tuh, angka 8 lagi! Semakin bagus jika ada tambahan poin dari sprint, karena jumlah 8 itu juga masih dipengaruhi berapa poin yang didapat Marquez pada sprint race.
-Dari sisi Bezzecchi, ia harus bisa mengalahkan Marquez di Lusail dengan selisih minimal 8 angka. Ia dituntut menang dan berharap lawannya finish di luar 8 Besar. Jika terjadi, bukan hanya menunda gelar, tapi Bezzecchi pun masih tercatat sebagai penantang perebutan gelar pada GP Portugal nanti. Tapi, seperti Martin, jumlah poin yang dibutuhkan sangat tergantung perolehan poin mereka di sprint race.
Martin dan Bezzecchi sudah mantapkan hati untuk fight sebisanya sampai batas yang memungkinkan untuk pertarungan di Qatar.
"Itu bukan hanya untuk saya pribadi, tetapi juga untuk tim, sponsor dan begitu banyak orang yanģ setia mendukung kami," tegas Martin yang masih dirundung cedera.
Sayangnya, kepastian Martin bisa ikut balapan baru akan diputuskan dokter pada petang hari ini Jumat (6/11). Pada Kamis (5/11) dua pembalap yang juga masih cedera, Fermin Aldeguer (Gresini Ducati) dan Raul Fernandez (TrackHouse Aprilia) sudah lolos tes medis dan bisa turut lakoni FP1 malam nanti. Tak ada keterangan mengapa Martin tak ikut tes medis kemarin.
Daya tarik lain adalah kemungkinan Aprilia untuk menerapkan team order. Yang lebih membutuhkan bantuan adalah Martin dan Bezzecchi bisa membantunya untuk mencapai target minimal finish di 8 Besar. Sementara Bezzecchi lebih realistis untuk mempertahankan posisinya di 3 Besar klasemen karena serangan Pedro Acosta (KTM) harus diwaspadai.
Di pihak lain Marquez akan fight sendirian. Tak bisa berharap dibantu rider Ducati lainnya macam Francesco Bagnaia dan Fabio Di Giannantonio yang sudah terang-terangan menolak. Adiknya, Alex Marquez yang sesungguhnya paling potensial untuk membantu, kali ini tak ikut balapan ksrena sesungguhnya proses pemulihan usai operasi cedera bahu pada Selasa lalu.
Dan, patut dicatat juga, Losail bukanlah trek kesukaan Marquez. Ia acap kesulitan di sana. (r)