mobilinanews (Jakarta) – “Melarang transportasi online bak melarang poligami . Tidak ada solusi yang mampu memecahkan problemnya. Kalau mau win win ya harus ada transportasi yang merakyat : cepat , terjangkau harganya dan aman,” demikian disampaikan Usman Adhie, mekanik senior dan pengamat otomotif.
Menurut Gembleh, sapaan karibnya, maraknya moda transportasi online adalah bukti ketidak mampuan sang penyelenggara regulasi (pemerintah) sehingga rakyat mencari cari solusi sendiri.
“Bayangkan mudah dan murahnya memakai taksi online. Pelanggan bayar langsung ke sopir, tanpa melalui upeti sana sini ya om. Punya uang 125 juta bisa mandiri dengan membeli mobil secara tunai untuk grab car atau uber. Kalau dengan cara kredit bisa lebih murah lagi modalnya. Kalau begini bapak-bapak menteri kita ngerti apa belum ya?,” tanyanya.
Fenomena taksi online pun telah menjadi fenomena yang cepat sekali berkembang. Tjahyadi Gunawan, mantan offroader yang sekarang penyelenggara balap menyebut, temen kantornya pernah dapet sopir bule Australia. “Dia kuliah di Jakarta, nyopir taksi online buat ngapalin jalan sekalian lihat-lihat dan latihan bahasa. Sulit dipercaya tadi nyatanya ada,” ungkap mas Gun.
Mas Gun pun bisa pamer pesan taksi online dari Bandara Halim Perdana Kusuma menuju rumahnya di kawasan Blok A Jakarta Selatan dengan naik Nissan Livina baru hanya Rp 64 ribu rupiah saja. Tidak perlu was-was mata terus tertuju ke argo, karena sebelum masuk taksi online yang juga sudah berkembang luas di Jakarta itu sudah ditentukan harus bayar berapa.
Seorang teman lain mennyebut yang harus ditanya itu pengguna taxinya, bukan sopirnya. “Kalau penumpang mau online ya suopir harus ikut. Gojek saja sudah beres, lebih dari 50% pengojek pangkalan migrasi ke online ,” ungkapnya.
Setelah adanya taksi online ini kita menjadi tahu betapa perusahaan taksi resmi itu begitu mengambil banyak keuntungan dari masyarakat. Ada indikator apapun tarifnya selalu naik. Seperti kalau BBM naik, cepat-cepat mereka menaikkan tarifnya. Tetapi begitu BBM turun yang telah beberapa kali terjadi, boro-boro tarif taksi turun. Seribu satu alasannya, harga spare part kendaraan yang naik lah dan lain sebagainya.
Maka adanya taksi online menjadi jalan keluar alternatif yang menyejukkan. Karena naik taksi bisa lebih murah hingga di bawah separohnya pula.
“Nah perlu dipahami oleh para petinggi yang terkait "Taxi Online" bukan sekedar murah tetapi all in segalanya. Yakni harga sudah diinfo di depan, gak cocok bisa batal. Estimasi kedatangan ada. Identitas pengemudi jelas, bisa dicheck ketika datang. Tarif berdasar jarak bukan argo manual, kalau jam macet ada kalkulasi biaya tambahan, sudah fix di depan. Bisa bayar pake virtual/non cash," ungkap Gembleh lagi.
Dengan taxi online, lanjut mantan mekanik mobil papan atas ini, mggak bakalan diputer-puter seperti kalau pake taksi argo. “Kalau naik taksi online makin muter yang rugi taxinya. Jelas beda kan dengan taxi konvensional! Kalau Taxi convensional mau bersaing, gampang saja. Buat aplikasi online sendiri, tingkatkan pelayanan. Beres to? Gitu saja kok repot,” pungkas pria asal Salatiga itu.
Apa mereka mau menurunkan tarifnya mendekati taksi online? Dan itu pasti susah. Kalau begitu, biarkan rakyat yang memilih moda transportasi lebih murah, cepat dan nyaman. Tidak dilarang berpoligami dalam memilih taksi?