motorinanews - Banyak saat ini para pengguna transportasi roda dua atau sepeda motor mengeluh dengan kenyamanan dan keamanan parkir motor. Mulai dari berdesak- desakan, tidak beraturan yang akhirya berujung pada resiko motor lecet karena terlalu mepet dari satu motor ke motor yang lain.
Terlebih saat ini yang menjadi perbincangan banyak pengguna motor adalah parkiran mall-mal besar. Beberapa pengelola parkir di mall-mal besar sering menomor duakan motor daripada mobil.
Kita bisa lihat kalau parkiran motor tanpa atap, jadi motor kehujanan dan kepanasan, lalu tidak adanya garis marka pembatas antar parkir motor, lokasi parkiran jauh dari bangunan yang dituju dan terkadang para operator malas mengatur parkir motor.
Padahal, kalo kita hitung secara keuntungan, parkir motor itu lebih menguntungkan daripada mobil, bisa kita lihat dari SRP alias Satuan Ruang Parkir antara Motor dan Mobil. Satu mobil bisa untuk parkiran 4 sepeda motor. Bayangkan jika lahan parkir sepeda motor lebih luas dari parkiran mobil. Jelas itu bisa menguntungkan para pengelola parkir.
Itu baru kita lihat dari sisi pendapatan pengelola parkir. Bagaimana jika pendapatan untuk negara? Jelas sepeda motor itu menjadi penyumbang pajak terbesar untuk Indonesia.
Lantas mengapa parkiran motor selalu dianaktirikan? "Ya itu karena, yang pake mobil terlihat lebih prestige daripada yang pake motor," ujar Bayu yang baru saja memarkirkan motornya disalah satu mall terbesar di BSD, Tangerang Selatan.
Jika memang seperti itu jawaban dari seorang pengguna motor berarti itu namanya diskriminasi sosial. Padahal belum tentu pengguna parkir mobil lebih kaya daripada pengguna motor. Dalam hal ini kita membicarakan sepeda motor berkapasitas kecil, lain halnya dengan moge atau moto gede alias motor besar. Beberapa Mall telah menyediakan ruang khusus bagi motor besar tersebut. Namun ada juga mall yang menyamaratakan semua jenis motor meski itu motor besar atau motor kecil.
(foto : tribunnews)