motorinanews - Jack Miller boleh menorehkan sejarah, ia membawa pebalap satelite pertama yang menapaki puncak podium MotoGP di Assen. Ini kemenangan pertama joki 21 tahun yang masih rookie di MotoGP (26/6).
Tapi yang menarik justru karena banyak yang salah menganalisa kans Andrea Dovisiozo dan Ducati di Assen, semua prediksi terjungkal. Ducati yang terkenal liar kayak monster justru jinak di licinnya aspal Assen.
Semua itu terjadi di race pertama balapan seri 8 yang dihentikan pada lap ke-15. Sisa 12 putaran lagi dilanjutkan pada race kedua, karena hujan yang makin deras, sudah anti-klimaks.
Keajaiban di Assen justru ketika di race pertama, 3 motor Ducati ada di 4 pembalap terdepan. Malah, sebelum Yoni Hernandez jatuh, 4 pengguna Desmosedici, Dovizioso, Danilo Petruci dan Scott Redding mengeroyok Valentino Rossi.
Ini tak lepas dari pengalaman Ducati dalam menyetel ECU Magneti Marelli. Sifat monster Desmosedici bisa diredam. "Begitu cuaca hujan, aku makin percaya diri," ungkap Dovizioso.
Ducati sukses membuat maping ECU yang jinak bagi Desmosedici. Sehingga powernya tidak meledak-ledak saat akselerasi, namun tetap beringas di rpm atas. "Justru kami akan keteteran jika balap dalam kondisi trek Assen kering," aku Dovizioso yang menyesal karena tidak finish akibat nafsu dan jatuh di race kedua.
Valentino Rossi pun akui keunggulan Ducati di trek yang tidak bersahabat buat motor lainnya. "Aku pernah di Ducati. Dan aku tau potensi motor itu saat wet race. Jangan tanya kenapa, tapi sifat monster itu hilang begitu saja," beber Rossi yang gagal finish.
Tapi, kita kasih selamat juga buat Jack Miller. Ia menambah deretan joki Australia yang pernah juara MooGP. Juga Aprilia yang kembali cicipi kemenagan sejak terakhir dirasakan.pada 2002. Selamat juga buat Marc Marquez yang memperlebar jarak di klasemen dari Jorge Lorenzo dengan 20 poin tambahan dengan finish runner-up.
(Teks : Aries Susanto; Foto : motorsport)