mobilinanews (Monaco) - Mungkin masih ada fans Formula 1 yang penasaran, mengapa Max Verstappen (Red Bull Racing) masuk pit di awal lap terakhir GP Monaco, Minggu (25/5) malam WIB. Pasalnya, ia lakukan itu saat menjadi pemimpin balapan.
Pada lap 77 ia memimpin balapan. Tiga rivalnya: Lando Norris (McLaren), Charles Leclerc (Ferrari) dan Oscar Piastri (McLaren) hanya 'berbaris' di belakang seperti konvoi bertiga.
Mendadak Verstappen masuk pit di akhir lap 77 atau di awal lap 78 yang merupakan akhir balapan. Akibatnya, RB21 miliknya mencapai finish di urutan ke-4 di belakang tiga pembalap yang berbaris tadi. Itu pun dengan gap 20-an detik.
Sebenarnya, Verstappen tak perlu ganti ban karena bannya masih segar untuk melahap 1 putaran lagi. Tapi, ia harus lakukan itu untuk menghindari penalti.
Itu adalah regulasi yang baru dilakukan kali ini di Monaco. Aturan mainnya, semua pembalap harus gunakan tiga set ban berbeda dalam durasi 78 lap itu. Itu berarti masing-masing pembalap harus melakukan 2 kali pitstop meski dalam regulasi tidak secara tegas menyebut harus 2 kali pitstop karena bisa saja pembalap lakukan 3 kali pit karena situasi.
Yang ngeyel hanya lakukan sekali pitstop dinai penalti 30 detik.
Mudah ditebak mengapa F1 berlakukan minimal 2 pitstop itu. Tak lain untuk menambah aspek tantangan dan hiburan agar balapan seri Monaco lebih bergreget.
Dibandingkan sirkuit lain, mayoritas trek dan tikungan Monaco dilalui dengan kecepatan rendah. Tidak terlalu menyiksa kinerja ban, sehingga di tahun sebelumnya durasi 78 laps itu bisa dieksekusi dengan 1 kali pitstop saja dengan kombinasi kompon ban medium-medium atau soft-hard.
Akibat dari 1 pit itu balapan jadi membosankan buat pembalap dan terlebih buat penonton. Karena nyaris tak ada lahan untuk menyalip maka jalannya balap F1 Monaco acap seperti konvoi, seperti arak-arakan pembalap, muter-muter sesuai posisi.
Pembalap paling agresif pun akan berpikir tiga kali untuk memaksakan kehendak menyalip. Pasalnya, sedikit saja salah taruhannya adalah menubruk pagar pembatas yang jaraknya hanya hitungan centimeter dari racing line.
Karena situasi itulah biasanya pembalap pol-polan di sesi kualifikasi. Untuk mendapatkan posisi start terdepan. Istilahnya, pemegang pole position sangat diuntungkan dan paling berpotensi menjadi juara. Karena pembalap di belakangnya sangat sulit menyalip karena tak ada area yang memungkinkan. Contoh pada race kemarin adalah Leclerc. Ia tak punya kesempatan menyalip Norris sebagai pole sitter meski tampak lebih kencang. Ia hanya bisa menyesuaikan irama seperti dikembangkan Norris.
Regulasi yang baru itu diharapkan menambah greget lomba dengan harapan strategi pitstop bisa mengubah posisi pembalap di lintasan. Menjadi sebuah kompetisi lain yang memunculkan ketegangan.
Tentu saja memunculkan pro dan kontra. Tapi, mayoritas pembalap papan atas justru semangat untuk mencobanya. Setidaknya ketentuan pitstop 2 kali membuat tim dan pembalapnya harus benar-benar berhitung dan cerdas soal momentum pitstop.
"Ini akan menambah bumbu balapan. Orang akan berjudi dan tebak-tebakan kapan melakukan pitstop dan bagaimana hasilnya. Ya, ini sekadar bumbu untuk lebih meramaikan balapan," kata Verstappen yang memilih 1 pitstop sampai lap ke-77 memang menghadirkan sensasi berbeda bagi penonton.
"Ini menambah bentuk permainan dalam strategi ban. Kita lihat saja siapa yang paling baik dalam permainan baru ini," kata Leclerc.
"Saya pikir dua kali pit stop seharusnya lebih baik," kata pembalap Ferrari Lewis Hamilton.
"Tahun lalu safety car keluar di putaran 2 dan semua orang hanya menggunakan satu set ban selama 70 putaran berikutnya dan tidak ada menariknya. Aturan baru ini lebih seperti undian. Tapi, itu dibutuhkan karena Anda tidak bisa menyalip."
Hasil akhirnya adalah relatif sama saja. Tetap iring-iringan untuk hindari kecelakaan seperti menimpa sejumlah pembalap. Norris, Leclerc, Piastri dan Verstappen pun finish di posisi 1 hingga 4. Persis seperti posisi start masing-maaing.
Hanya Hamilton yang melangkah maju. Start P7 dan finish P5.
Dan, belum diketahui apakah FIA masih akan mainkan aturan baru itu atau tidak pada musim depan? Atau mungkin coba permainan berbeda? (r)