Honda Tegaskan Mobil Listrik Bukan Tujuan Utama Netral Karbon Adalah Sasaran Akhir

Selasa, 19/08/2025 15:45 WIB
Ade Nugroho


Honda Tegaskan Mobil Listrik Bukan Tujuan Utama Netral Karbon Adalah Sasaran Akhir
Honda Tegaskan Mobil Listrik Bukan Tujuan Utama Netral Karbon Adalah Sasaran Akhir

Mobilinanews (Jakarta) - Honda kembali membuat pernyataan yang memicu diskusi di industri otomotif global. Meski banyak produsen mobil gencar mengumandangkan masa depan 100 persen kendaraan listrik, Honda justru mengambil langkah berbeda. Bagi mereka, mobil listrik hanyalah salah satu jalur, bukan tujuan akhir.

Tahun lalu, Honda sempat mengalokasikan dana besar—10 triliun yen atau sekitar 68 miliar dolar AS—untuk pengembangan elektrifikasi. Namun, beberapa bulan kemudian, angka itu dipangkas hingga 30 persen. Target penjualan mobil listrik murni 30 persen pada akhir dekade ini pun tak lagi menjadi patokan.

“Kendaraan listrik bertenaga baterai hanyalah salah satu cara menuju netral karbon, bukan satu-satunya cara,” tegas Jay Joseph, CEO Honda Australia. Ia menambahkan bahwa Honda juga tengah mengembangkan baterai solid-state, teknologi sel bahan bakar hidrogen, hingga sistem hybrid canggih.

Tidak Menutup Pintu untuk Hidrogen

Meski model Clarity sudah berhenti diproduksi, Honda belum menyerah pada hidrogen. Mereka menghadirkan CR-V e:FCEV, SUV unik yang memadukan teknologi sel bahan bakar dengan baterai plug-in hybrid 17,7 kWh. Kombinasi ini memungkinkan mobil menempuh jarak sekitar 46 km hanya dengan daya baterai, sembari tetap mengandalkan hidrogen untuk perjalanan jarak jauh.

Menariknya, Toyota dan Hyundai juga tetap memelihara optimisme terhadap hidrogen, bahkan BMW berencana meluncurkan kendaraan sel bahan bakar pada 2028. Sebaliknya, Stellantis memilih mundur dari segmen ini, menyebutnya sebagai “pasar khusus.”

Masalah Besar: Infrastruktur yang Tertinggal Jauh

Kendati teknologi menjanjikan, realitas di lapangan berkata lain. Menurut data H2stations.org, hanya ada sekitar 1.160 stasiun pengisian hidrogen di seluruh dunia pada akhir 2024. Infrastruktur bahan bakar sintetis lebih parah lagi—nyaris tidak ada, kecuali proyek percontohan seperti fasilitas Porsche di Chili.

Tanpa infrastruktur memadai, adopsi kendaraan hidrogen akan sulit berkembang. Namun, beberapa pihak menilai justru inilah saatnya membangun pondasi sebelum teknologi ini benar-benar dibutuhkan secara masif.

Toyota: Mobil Listrik Bukan Jawaban Tunggal

Senada dengan Honda, Toyota juga percaya bahwa masa depan otomotif tidak hanya bergantung pada baterai. Bersama Mazda dan Subaru, mereka tengah mengembangkan mesin netral karbon yang mampu menggunakan hidrogen cair, biofuel, dan bahan bakar sintetis.

Akio Toyoda, pimpinan Toyota, bahkan sempat memprediksi bahwa mobil listrik konvensional tidak akan pernah melampaui pangsa pasar 30 persen secara global. Namun, data terbaru menunjukkan tren sebaliknya.

EV Masih Mendominasi Tren Penjualan Global

Badan Energi Internasional (IEA) mencatat, pada 2024, mobil listrik sudah menyumbang lebih dari 20 persen penjualan global, dan diprediksi menembus 25 persen pada 2025. China menjadi pendorong utama tren ini, disusul Eropa yang kini mencatat pangsa pasar EV sebesar 17,5 persen di paruh pertama 2025—naik signifikan dari 13,9 persen tahun sebelumnya.

Artinya, meski Honda dan Toyota memilih strategi multi-jalur, arus besar kendaraan listrik berbasis baterai tetap tak terbendung. Pertanyaannya, siapa yang akan lebih unggul di masa depan: mereka yang fokus penuh pada EV, atau mereka yang menyebar investasi ke berbagai teknologi?

Tag

Terpopuler

Terkini