Produksi Daihatsu Anjlok Pasar Domestik Lesu Jadi Biang Kerok

Jum'at, 29/08/2025 12:45 WIB
Ade Nugroho


Produksi Daihatsu Anjlok Pasar Domestik Lesu Jadi Biang Kerok
Produksi Daihatsu Anjlok Pasar Domestik Lesu Jadi Biang Kerok

Mobilinanews (Jakarta) - Industri otomotif nasional ternyata masih bergelut dengan tekanan besar pada 2025. Salah satu yang paling terasa adalah di kubu Daihatsu, di mana angka produksinya tercatat anjlok cukup dalam sepanjang Januari–Juli 2025.

Produksi Turun Hampir 25%

Data dari Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukkan, total produksi Daihatsu hanya 74.762 unit. Angka ini turun drastis 24,8% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, yang mencapai 99.464 unit.

Meski begitu, ada sedikit kabar baik di bulan Juli 2025. Produksi sempat menyentuh 10.433 unit, naik 11,8% dibandingkan bulan Juni yang hanya 9.336 unit.

Apa Kata Daihatsu?

Menurut Sri Agung Handayani, Marketing Director dan Corporate Communication Director PT Astra Daihatsu Motor (ADM), penurunan produksi utamanya dipicu melemahnya pasar domestik.

“Total produksi memang yang mengalami penurunan terbesar di domestik, karena 70% domestik, 30% ekspor, dan ekspor naik 3%, domestik turun 12%,” ungkap Agung dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat (22/8/2025).

Ia menambahkan, kondisi ekonomi yang menantang membuat penjualan dalam negeri tertekan, terutama di segmen andalan Daihatsu:

Low Cost Green Car (LCGC)

Pick-up

SUV medium

Ketiga segmen ini sebelumnya menjadi tulang punggung penjualan Daihatsu.

Ekspor Jadi Penopang

Meski pasar domestik lesu, ekspor justru tumbuh positif 3%. Inilah yang membuat Daihatsu masih bisa menjaga ritme produksinya. Bahkan, hingga saat ini Daihatsu tetap menjadi penguasa mobil dengan harga di bawah Rp 300 juta.

Market mobil < Rp 300 juta: 50%

Market share Daihatsu: 34,5% (nomor 1 di Indonesia)

Namun, persaingan semakin ketat dengan masuknya mobil listrik murah asal China, yang berani menjual produk di bawah Rp 200 juta.

Mobil Listrik Murah China, Ancaman Baru

Kehadiran mobil listrik berbasis baterai (BEV) dengan harga mirip LCGC membuat pasar semakin kompetitif. Meski begitu, Agung menilai adopsi BEV masih lambat.

Adopsi xEV (mobil hybrid + listrik): 4,5%

BEV murni: hanya 1,5%

Menurutnya, faktor seperti after sales, biaya perawatan, dan terutama nilai jual kembali (resale value) menjadi penghambat utama perkembangan mobil listrik murah.

Strategi Daihatsu ke Depan

Daihatsu menegaskan akan tetap fokus pada segmen LCGC dan pikap, dua pasar yang terbukti kuat dan dibutuhkan masyarakat.

“Kami memberi kemudahan after sales yang terjangkau. Resale value juga jadi perhatian kami, terutama untuk first car buyer di seluruh Indonesia, baik urban maupun suburban. Fokus kami adalah memberi kemudahan agar masyarakat mulai berani usaha dengan harga terjangkau,” jelas Agung.

 

Tag

Terpopuler

Terkini