mobilinanews (Jepang) - Minggu pagi ini Jorge Martin dipulangkan ke Barcona, Spanyol. Langsung masuk meja operasi pada Senin esok. Sudah pasti juara dunia MotoGP 2024 tak bisa ikut GP Indonesia akhir pekan ini Mandalika.
Rider Aprilia berjuluk Martinator itu alami kecelakaan fatal selepas start sprint race GP Jepang, Sabtu (27/9). Ia kehilangan keseimbangan di dalam tikungan, jatuh dan menyeret rekan setimnya di Aprilia, Marco Bezzecchi.
Bezzecchi aman.
Tapi, tidak untuk Martinator. Ia harus dilarikan ke rumah sakit terdekat dengan helikopter. Cidera tulang selangka. Retak dan bergeser. Hasil rontgen yang diunggah Martin di akun instagram sangat jelas memperlihatkan kondisi tulang-belulangnya.
"Sangat sakit. Tapi, Anda tak akan pernah melihat saya menyerah. See you soon!" tulis Martin di medsosnya.
Ia dijadwalkan lakoni operasi pada Senin besok. Ditangani tim dokter yang sebelum ini juga merawatnya enam bulan lebih akibat kecelakaan di tes pra musim Malaysia.
Buat Martin, ini bukan hanya menyakitkan secara fisik. Hatinya pun teriris karena baru saja ia merasa nyaman mengendarai Aprilia RS-GP. Ia mulai mendapatkan sentuhan dan proses adaptasinya pun berjalan positif. Ia bahkan mulai bisa mengimbangi kecepatan Ducati, dan diperlihatkan di sesi latihan GP Jepang pada Jumat lalu. Ia finish P2 di bawah Francesco Bagnaia.
Bagi Aprilia, ini juga menyedihkan. Diperlihatkan sangat jelas oleh CEO Aprilia Massimo Rivola. Setelah lama menunggu kesembuhan Martin, kini musibah datang justru ketika Rivola sudah punya harapan dan target ambisius untuk musim 2026.
"Kami punya potensi dan siap melawan Ducati dalam perburuan gelar tahun depan," tegas Rivola.
Keyakinan itu didasarkan fakta betapa Aprilia kini semakin rapat dengan Ducati lewat penampilan Bezzecchi. Saat sama Martin pun semakin hari semakin fit dan semakin menyatu dengan RS-GP dan mulai tarung di level tengah.
"Tahun depan kami punya sepasang pembalap yang layak berjuang berebut gelar. Kami hanya perlu sedikit lagi memoles area teknis. Jorge semakin membaik. Bersama Fabio, mereka akan jadi pasangan tangguh," ucap Rivola yang bukan hanya memikirkan musim 2026 bersama Martin tetapi juga lanjut ke musim 2027 saat regulasi MotoGP berubah drastis.
Seperti kata Martin, ia tak pernah menyerah hanya karena kecelakaan karena itu sudah jadi bagian hidupnya sebagai pembalap. Karena kesiapan mental itulah salah satu hal yang membuatnya bisa menjadi juara dunia MotoGP 2024.
Dengan progresnya di atas Aprilia RS-GP, Martin secara tersirat sudah membuka opsi untuk lanjutkan kontrak dengan Aprilia usai 2026.
Bukan hanya karena melihat potensi motor itu untuk bersaing di level kejuaraan dunia, tetapi Martinator juga mengapresiasi perhatian dan kepercayaan Aprilia kepadanya selama masa cidera. Ia pun menghargai sikap kekeluargaan Aprilia meski Martin sudah sempat mengajukan pemutusan kontrak usai musim 2025.
Kasus itu sempat alot dengan argumentasi pengacara masing-masing soal klausul kontrak yang menyebut Martin boleh mundur jika tidak kompetitif hingga batas GP Prancis di LeMans. Tapi, di mata Aprilia, Martin sepanjang awal musim hingga Prancis lebih banyak berkutat dengan cidera. Bukan karena motor yang tidak kompetitif.
Kini kedua pihak sudah berdamai dan jalani keseharian seperti sebuah keluarga. Rivola berharap sang juara segera pulih, bangkit agar bisa mewujudkan harapan Rivola tahun depan: menjadi tim yang mengancam dominasi Ducati. (r)