Penjualan Mobil Honda Merosot Tajam Sepanjang 2025 Disalip Suzuki, Ditekan Pabrikan China dan Korea

Jum'at, 24/10/2025 12:15 WIB
Ade Nugroho


Penjualan Mobil Honda Merosot Tajam Sepanjang 2025 Disalip Suzuki, Ditekan Pabrikan China dan Korea
Penjualan Mobil Honda Merosot Tajam Sepanjang 2025 Disalip Suzuki, Ditekan Pabrikan China dan Korea

Mobilinanews (Jakarta) - Kinerja penjualan PT Honda Prospect Motor (HPM) di Indonesia sepanjang tahun 2025 menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Berdasarkan data dari Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan wholesales Honda terus mengalami penurunan hampir setiap bulan sejak Maret.

Padahal, di awal tahun Honda sempat tampil gemilang dan masuk tiga besar merek mobil terlaris nasional. Namun kini, merek berlogo “H” ini tampak mulai kehilangan tenaga menghadapi persaingan yang kian ketat.

Fenomena ini menandakan bahwa Honda tengah berada dalam tekanan besar, baik dari pabrikan Jepang lain seperti Toyota dan Suzuki, maupun dari produsen asal China dan Korea Selatan yang semakin agresif masuk ke pasar Tanah Air. Selain itu, pergeseran tren ke kendaraan listrik juga menjadi tantangan berat bagi Honda yang masih mengandalkan model bermesin bensin konvensional.

1. Disalip Suzuki, Honda Terpuruk ke Posisi Kelima

Kondisi Honda pada September 2025 bisa dibilang cukup memprihatinkan. Penjualan wholesales hanya mencapai 4.332 unit, menjadikannya pabrikan Jepang dengan angka penjualan terendah di antara lima besar.

Bahkan, Honda harus rela disalip Suzuki, yang berhasil membukukan 5.152 unit pada bulan yang sama. Dalam daftar 10 merek terlaris nasional, Honda kini berada di posisi kelima, di bawah Toyota, Daihatsu, Mitsubishi Motors, dan Suzuki.

Padahal, beberapa tahun terakhir Honda dikenal sebagai pemain paling agresif di segmen city car dan SUV kompak. Namun kini, model andalannya seperti Brio Satya, HR-V, dan CR-V mulai kehilangan daya tarik. Minimnya pembaruan dan harga yang relatif tinggi membuat konsumen beralih ke model kompetitor yang lebih segar dan terjangkau.

Sementara itu, merek lain seperti Toyota, Daihatsu, dan Hyundai terus memperluas lini produk dengan model hybrid atau EV baru yang lebih menarik bagi konsumen muda dan urban.

2. Tren Penjualan Honda Terus Menurun Sejak Maret

Honda sempat membuka tahun 2025 dengan cukup baik.

  • Januari: 7.276 unit

  • Februari: 8.757 unit (puncak penjualan)

Namun setelah itu, grafiknya turun tajam:

  • Maret: 6.145 unit

  • April: 3.000 unit (terendah sepanjang tahun)

  • Mei: 4.567 unit

  • Juni: 4.855 unit

  • Juli: 5.100 unit

  • Agustus: 4.712 unit

  • September: 4.332 unit

Total sepanjang Januari–September 2025, Honda baru mencatat sekitar 49 ribu unit, jauh tertinggal dibanding Toyota dan Daihatsu yang masing-masing sudah menembus lebih dari 140 ribu unit.

Penurunan yang konsisten ini menandakan Honda belum berhasil menemukan momentum pemulihan.

3. Apa yang Sebenarnya Terjadi di Honda?

Ada beberapa faktor utama yang membuat performa Honda terpuruk tahun ini:

a. Minim Model Baru
Selama 2025, Honda terbilang pasif dalam meluncurkan produk baru. Mayoritas lini andalannya masih model lama dengan penyegaran ringan, sehingga kalah menarik dari kompetitor yang rutin menghadirkan versi hybrid atau full model change.

b. Terlambat Merespons Tren Elektrifikasi
Ketika Toyota, BYD, dan Hyundai sudah agresif memasarkan model hybrid dan EV, Honda baru berencana meluncurkan mobil elektrifikasi di akhir 2025. Ketertinggalan ini membuat brand image Honda tampak kurang inovatif di mata konsumen muda.

c. Persaingan Harga dan Fitur
Konsumen kini lebih sensitif terhadap value for money. Model-model kompetitor seperti Daihatsu Rocky, Toyota Yaris Cross, hingga mobil China seperti Chery Omoda 5 menawarkan fitur lebih banyak di harga yang mirip atau bahkan lebih murah.

d. Ketergantungan pada Brio dan HR-V
Sekitar separuh penjualan Honda masih ditopang oleh Brio Satya dan HR-V. Ketika kedua model ini mulai jenuh di pasar, dampaknya langsung terasa signifikan terhadap total volume penjualan.

4. Masa Transisi yang Menentukan Arah Honda di Indonesia

Melihat tren yang ada, Honda tampaknya tengah memasuki fase transisi strategis.
Tantangannya bukan hanya melawan kompetitor lama, tetapi juga menyesuaikan diri dengan perubahan pasar ke arah elektrifikasi dan efisiensi.

Jika Honda tidak segera menghadirkan model baru yang segar, efisien, dan terjangkau, maka pangsa pasarnya bisa terus terkikis.
Sementara merek-merek seperti Chery, Wuling, BYD, dan Hyundai semakin kuat dalam hal teknologi dan jaringan pemasaran.

Bagi penggemar Honda, tahun 2026 akan menjadi momen krusial: apakah Honda akan bangkit lewat mobil hybrid dan EV baru, atau justru semakin tertinggal di tengah gelombang perubahan industri otomotif global.

Tag

Terpopuler

Terkini