mobilinanews (Inggris) - Perubahan sangat cepat terjadi di F1, secepat laju mobilnya. Siang dikabarkan Helmut Marko tengah berpikir untuk pensiun, malamnya sudah resmi keluar. Sayangnya, ada kontroversi di belakang layar.
Keluarnya penasehat senior Red Bull Racing (RBR) itu diumumkan resmi oleh CEO Red Bull Gmbh Oliver Mintzlaff pada Selasa (9/12) malam WIB.
Berikut adalah isi rilis yang dikeluarkan Mintzlaff.
"Helmut menghubungi saya dengan keinginan untuk mengakhiri perannya sebagai penasihat olahraga motor di akhir tahun".
"Saya sangat menyesali keputusannya, karena ia telah menjadi tokoh berpengaruh selama lebih dari dua dekade, dan kepergiannya menandai berakhirnya sebuah era yang luar biasa."
"Setelah perbincangan yang panjang dan intensif, saya tahu saya harus menghormati keinginannya, karena saya merasa waktunya tepat untuk mengambil langkah ini."
Tapi, media motorsport, termasuk the-race menduga ada hal lain di balik itu.
Terlepas dari klaim dalam rilis Red Bull, kepergian Marko bukanlah kejutan mengingat hubungan keduanya tampaknya telah mendingin secara signifikan dan dipahami bahwa baik Mintzlaff maupun pemegang saham Red Bull, Chalerm Yoovidhya, sepakat setelah balapan final di Abu Dhabi bahwa Marko harus diberhentikan. Hari Senin dimatangkan dan pada Selasa dituntaskan.
Sejak kepergian pendiri Red Bull Dietrich Mateschitzt, kebijakan perusahaan memang lebih banyak dipengaruhi oleh Mintzlaff dan Yoovidhya. Lebih berpengaruh dari putra Mateschitzt, Mark.
Marko yang mantan driver F1 dan manajer pribadi Gerhard Berger itu adalah sahabat yang dipercaya Mateschitzt untuk.membeli tim Jaguar dan menjadikannya RBR pada 2005. Marko pula yang membuka akademi pembalap muda dan tim yunior Toro Rosso untuk memasok para pembalap utama di RBR. Lewat jalur inilah Daniel Ricciardo, Carlos Sainz, Sebastian Vettel dan Max Verstappen datang. Dua nama terakhir mencetak masing-masing 4 gelar dunia.
Dan, berkat insting Marko pulalah Verstappen bisa langsung lompat dari F3 langsung ke level F1 di Toro Rosso pada 2015.
Belakangan kubu Mintzlaff banyak mengintervensi kebijakan Marko setelah sebelumnya juga tak cocok dengan kepemimpinan Christian Horner sebagai prinsipil tim yang akhirnya dipecat dan digantikan Laurent Mekies.
Salah satu hal yang membuat Marko tak nyaman adalah campur tangan pusat untuk pembinaan dan promosi pembalap muda. Contohnya, saat Arvid Lindblad dipromosikan ke Racing Bulls untuk 2026, menggantikan Isack Hadjar yang naik jadi pendamping Verstappen.
Kubu Mintzlaff tak suka itu. Dan, saat Marko berkomentar keras kepada pembalap muda Mercedes Andrea Kimi Antonelli dengan menuduhnya beri kemudahan pada Lando Norris di GP Qatar, ternyata juga dimasalahkan pimpinan pusat dengan menyinggung soal citra perusahaan.
Dan, menurut media, sebenarnya ini bukan hanya sekadar tim balapan bernama RBR. Ini terkait proyek besar Red Bull Power Train (RBPT) yang akan memulai industri mesin sendiri.
Saat isu pelecehan seksual Horner muncul pada awal musim 2024, sebenarnya Marko juga ditarget untuk dipecat. Namun, saat itu Verstappen terang-terangan membela dengan menyebut Marko adalah salah satu pilar suksesnya.
Kini Marko sudah resmi keluar, mungkin juga tanpa pembicaraan lebih dulu dengan Verstappen. Itu menguatkan spekulasi pembalap Belanda itu akan lebih lapang dada pindah ke tim Mercedes pada musim 2027.
Ya, perubahan pengaruh di level atas perusahaan induk Red Bull Gmbh memang berdampak langsung pada RBR. Satu per satu pentolan tim berguguran. Mulai dari desainer kondang Adrian Newey, Direktur Sport Jonathan Wheatley, Team Principal Christian Horner, ahli strategi Will Courtenay, dan sekarang Helmut Marko. Selanjutnya juga mungkin tanpa Gianpiero Lambiase yang merupakan mitra utama Verstappen di saat race berlangsung.
Dan, Verstappen pernah bilang ia akan keluar jika tak lagi merasa nyaman.
Nyamankah ia musim depan? Inikah tanda bakal hengkang ke Mercedes pada 2027? (r)